Nanci Lambok Morrito
180110110077
Sastra Indonesia/ A
Sastra Bandingan
Perbandingan Novel Terjemahan karya Sapardi Djoko Damono dan Dian Vita
Ellyati dalam Novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingwey
Penerjemah yaitu
merupakan penghianatan kreatif yang dilakukan oleh seorang penerjemah dimana
pun, hal ini jelas karena dalam setiap terjemahan selalu melakukan hal mengubah,
mengurangi atau menambahkan apa yang ada pada aslinya karena tidak mungkin kata
yang ada pada karya aslinya sama percis dengan terjemahan dalam bahasa yang
berbeda maka dari itu dalam menerjemahkan suatu karya harus tepat dalam
pemilihan katanya agar setiap kalimat yang sudah diterjemahkan lebih tepat dan
mudah untuk para pembaca memahaminya.
Sebuah novel yang memiliki cerita yang sedehana, yang menceritakan sebuah pengalaman hidup seorang lelaki
tua. The Old Man and The Sea adalah
novel karya Ernest Hemingway yang sudah banyak diterjemahkan oleh para
penerjemah bahkan seorang sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono pun ikut
menerjemahkan novel The Old Man and The
Sea dengan pilihan kata yang sedikit bernuansa sastra dan para pembaca
novel terjemahan Sapardi harus memahami betul maksud yang disampaikan oleh Supardi.
Ada pula penerjemah lainnya yang ikut
menerjemahkan novel tersebut yaitu Dian Vita Ellyati yang sebenarnya perempuan
tersebut adalah seorang penerjemah.
Dalam mata kuliah sastra bandingan, saya akan
membandingkan dua novel terjemahaan yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono
dan Dian Vita Ellyati, mereka berdua sama-sama menerjemahkan novel The Old Man and The Sea karya Ernest
Hemingway. Karena ini bersifat terjemahan dan mempunyai ikatan kuat
dengan karya aslinya maka tidak jauh berbeda pada novel aslinya.
Terjamahan akan terlihat berbeda pada aslinya jika dalam pemilihan katanya
tidak sesuai. Baik Sapardi Djoko Damono maupun
Dian Vita Ellyati
menerjemahkan dengan baik
meskipun terlihat jelas perbedaan dari cari pemilihan kata dalam setiap kalimat
dalam ceritannya, mungkin hal ini dilatarbelakangi oleh pekerjaan mereka yang
berbeda profesi serta tahun pembuatan diterjemahkannya novel ini. Dalam kedua
novel yang sudah diterjemahkan oleh mereka berdua ada beberapa perbedaan dalam
pemilihan katanya serta gaya bahasa yang di ungkapan, hal ini dapat dilihat
dalam setiap kata-kata dalam kalimat. Saya telah membaca kedua novel terjemahan ini, dan menurut pendapat saya
bahwa novel terjemahan Dian Vita Ellyati lebih mudah dipahami dalam setiap
kalimat ceritanya, isi, maupun pesan yang diungkapan oleh penulis aslinya hal
ini mungkin dipengaruhi oleh pemilihan kata yang tidak asing lagi didengar oleh
saya sebagai pembaca dan lebih singkat (terlihat pada penulisan angka/huruf/tahun).
Sedangkan Dalam Lelaki Tua dan Laut, Sapardi Djoko Damono menggunakan bahasa yang
kuat sehingga para pembaca novel terjemahannya harus lebih memahami betul
maksud dalam setiap kalimatnya, tidak mudah untuk memahami setiap kata yang
disampaikan oleh Sapardi mungkin hal ini dipengaruhu oleh faktor tahun
pembuatan terjemahan ini serta menggunakan pilihan kata itu karena mungkin dia
adalah seorang sastrawan, maka dari itu novel terjemahan Sapardi Djoko Damono
terlihat sedikit berbeda dari aslinya. Penggunaan bahasa Sapardi
juga pasti berhubungan
dengan
kehidupan berbahasa pada tahun terbitnya terjemahan ini.
Meskipun keduanya ada perbedaan dalam setiap pemilihan
kata, tetapi kedua novel terjemahan ini telah berhasil menyampaikan maksud
Hemingway dengan versi terjemahan mereka berdua dalam novel The Old Oan and The Sea yang disusun
dalam pemaknaan kalimat.
Perbedaan diatas dapat kita lihat dalam penggunan kata
dalam kedua novel terjemahan Sapardi Djoko Damono dan Dian Vita Ellyati yaitu
antara lain :
“IA seorang lelaki tua yang sendiri saja dalam sebuah
perahu menangkap ikan di Arus Teluk Méksiko
dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap
seékor ikanpun”. (Sapardi: 5)
“ADALAH seorang lelaki tua yang pergi ke laut seorang
diri dalam sebuah perahu di Arus Teluk Meksiko yang telah berlayar selama 84
hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun”. (Dian: 3)
§ Memang tidak beda maksudnya tetapi terlihat berbeda dalam
pemilihan katanya seperti pada tahun, jika Sapardi menggunakan delapan puluh
empat ditulis dengan kalimat bukan dengan angka, ini yang membedakan oleh
penerjemah Dian, Dian hanya menulis 84 saja, sehingga lebih singkat dan mudah
untuk membacanya.
““Santiago,” kata anak
laki-laki itu”. (Sapardi: 7)
““Santiago.” si bocah memanggil”.
(Dian:6)
§ Perbedaan jelas dilihat dari cara memanggil Manolin,
seorang anak kecil yang berguru pada lelaki tua yang bernama Santiago, Sapardi
memanggil dengan anak laki-laki namun Dian memanggilnya dengan sebutan bocah,
kedua panggilan itu memang sama artinya namun jika Dian memilih penggunan
katanta sedikit rada santai, Sapardi menggunakan kata anak laki-laki sedikit
serius dan bercondong pada penggunaan bahasa Indonesia yang benar.
Dari kedua novel terjemahan The Old Man and The Sea hanya terdapat perbedaan pada setiap
pemilihan kata dalam kalimatnya. Sapardi lebih menggunakan kata yang baku yang
dipengaruhi oleh tahun pembuatannya (1973 )dibandingkan Dian yang menggunakan
pilihan kata yang sedikit santai, dan menggunakan bahasa pada zaman sekarang
ini (2008) dan mudah dipahami jika membaca novel terjemahannya, ini disebabkan
oleh penggunan kata dan gaya bahasa yang disampaikan. Kedua novel terjemahan
ini tidak bisa saya katakan lebih baik satu sama lain, tetapi mereka berdua
sebagai penerjemah memiliki ciri khas dalam menggunakan bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.