Senin, 04 Juni 2012

PERBANDINGAN


Nanci Lambok Morrito

180110110077

Sastra Indonesia/ A

Sastra Bandingan

Perbandingan Novel Terjemahan karya Sapardi Djoko Damono dan Dian Vita Ellyati dalam Novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingwey


Penerjemah yaitu merupakan penghianatan kreatif yang dilakukan oleh seorang penerjemah dimana pun, hal ini jelas karena dalam setiap terjemahan selalu melakukan hal mengubah, mengurangi atau menambahkan apa yang ada pada aslinya karena tidak mungkin kata yang ada pada karya aslinya sama percis dengan terjemahan dalam bahasa yang berbeda maka dari itu dalam menerjemahkan suatu karya harus tepat dalam pemilihan katanya agar setiap kalimat yang sudah diterjemahkan lebih tepat dan mudah untuk para pembaca memahaminya.

  Sebuah novel yang memiliki cerita yang sedehana, yang menceritakan sebuah pengalaman hidup seorang lelaki tua. The Old Man and The Sea adalah novel karya Ernest Hemingway yang sudah banyak diterjemahkan oleh para penerjemah bahkan seorang sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono pun ikut menerjemahkan novel The Old Man and The Sea dengan pilihan kata yang sedikit bernuansa sastra dan para pembaca novel terjemahan Sapardi harus memahami betul maksud yang disampaikan oleh Supardi.  Ada pula penerjemah lainnya yang ikut menerjemahkan novel tersebut yaitu Dian Vita Ellyati yang sebenarnya perempuan tersebut adalah seorang penerjemah.

Dalam mata kuliah sastra bandingan, saya akan membandingkan dua novel terjemahaan yang diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono dan Dian Vita Ellyati, mereka berdua sama-sama menerjemahkan novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Karena ini bersifat terjemahan dan mempunyai ikatan kuat dengan  karya aslinya maka tidak jauh berbeda pada novel aslinya. Terjamahan akan terlihat berbeda pada aslinya jika dalam pemilihan katanya tidak sesuai. Baik Sapardi  Djoko Damono maupun Dian Vita Ellyati menerjemahkan dengan baik meskipun terlihat jelas perbedaan dari cari pemilihan kata dalam setiap kalimat dalam ceritannya, mungkin hal ini dilatarbelakangi oleh pekerjaan mereka yang berbeda profesi serta tahun pembuatan diterjemahkannya novel ini. Dalam kedua novel yang sudah diterjemahkan oleh mereka berdua ada beberapa perbedaan dalam pemilihan katanya serta gaya bahasa yang di ungkapan, hal ini dapat dilihat dalam setiap kata-kata dalam kalimat. Saya telah membaca kedua  novel terjemahan ini, dan menurut pendapat saya bahwa novel terjemahan Dian Vita Ellyati lebih mudah dipahami dalam setiap kalimat ceritanya, isi, maupun pesan yang diungkapan oleh penulis aslinya hal ini mungkin dipengaruhi oleh pemilihan kata yang tidak asing lagi didengar oleh saya sebagai pembaca dan lebih singkat (terlihat pada penulisan angka/huruf/tahun). Sedangkan Dalam Lelaki Tua dan Laut, Sapardi Djoko Damono menggunakan bahasa yang kuat sehingga para pembaca novel terjemahannya harus lebih memahami betul maksud dalam setiap kalimatnya, tidak mudah untuk memahami setiap kata yang disampaikan oleh Sapardi mungkin hal ini dipengaruhu oleh faktor tahun pembuatan terjemahan ini serta menggunakan pilihan kata itu karena mungkin dia adalah seorang sastrawan, maka dari itu novel terjemahan Sapardi Djoko Damono terlihat sedikit berbeda dari aslinya. Penggunaan bahasa Sapardi juga pasti berhubungan dengan kehidupan berbahasa pada tahun terbitnya terjemahan ini.

Meskipun keduanya ada perbedaan dalam setiap pemilihan kata, tetapi kedua novel terjemahan ini telah berhasil menyampaikan maksud Hemingway dengan versi terjemahan mereka berdua dalam novel The Old Oan and The Sea yang disusun dalam pemaknaan kalimat.

Perbedaan diatas dapat kita lihat dalam penggunan kata dalam kedua novel terjemahan Sapardi Djoko Damono dan Dian Vita Ellyati yaitu antara lain :

“IA seorang lelaki tua yang sendiri saja dalam sebuah perahu menangkap ikan di Arus Teluk Méksiko dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seékor ikanpun”. (Sapardi: 5)
“ADALAH seorang lelaki tua yang pergi ke laut seorang diri dalam sebuah perahu di Arus Teluk Meksiko yang telah berlayar selama 84 hari tanpa membawa hasil ikan seekorpun”. (Dian: 3)

§  Memang tidak beda maksudnya tetapi terlihat berbeda dalam pemilihan katanya seperti pada tahun, jika Sapardi menggunakan delapan puluh empat ditulis dengan kalimat bukan dengan angka, ini yang membedakan oleh penerjemah Dian, Dian hanya menulis 84 saja, sehingga lebih singkat dan mudah untuk membacanya.

““Santiago,” kata anak laki-laki itu”. (Sapardi: 7)
““Santiago.” si bocah memanggil”. (Dian:6)

§  Perbedaan jelas dilihat dari cara memanggil Manolin, seorang anak kecil yang berguru pada lelaki tua yang bernama Santiago, Sapardi memanggil dengan anak laki-laki namun Dian memanggilnya dengan sebutan bocah, kedua panggilan itu memang sama artinya namun jika Dian memilih penggunan katanta sedikit rada santai, Sapardi menggunakan kata anak laki-laki sedikit serius dan bercondong pada penggunaan bahasa Indonesia yang benar.

Dari kedua novel terjemahan The Old Man and The Sea hanya terdapat perbedaan pada setiap pemilihan kata dalam kalimatnya. Sapardi lebih menggunakan kata yang baku yang dipengaruhi oleh tahun pembuatannya (1973 )dibandingkan Dian yang menggunakan pilihan kata yang sedikit santai, dan menggunakan bahasa pada zaman sekarang ini (2008) dan mudah dipahami jika membaca novel terjemahannya, ini disebabkan oleh penggunan kata dan gaya bahasa yang disampaikan. Kedua novel terjemahan ini tidak bisa saya katakan lebih baik satu sama lain, tetapi mereka berdua sebagai penerjemah memiliki ciri khas dalam menggunakan bahasa.








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.