Nanci Lambok Morrito
180110110077
Sastra Indonesia/ A
Sastra Bandingan
Sikap Durhaka Seorang Anak Terhadap Ibunya
Sehingga Menimbulkan Celaka.
Dalam mata kuliah sastra
bandingan ini saya akan membandingkan
dua cerita rakyat nusantara yang tema ceritanya memiliki kemiripan yaitu
sama-sama menceritakan sikap anak yang durhaka terhadap ibunya dan dikutuk
menjadi sebuah batu. Yaitu cerita rakyat “Malin Kundang” dari Sumatra Barat dan
cerita rakyat “Batu Menangis” dari Kalimantan Barat. Sebelumnya saya akan
menceritakan sinopsis kedua cerita rakyat nusantara diatas. Jika dalam cerita
rakyat Malin Kundang menceritakan sebuah anak lelaki yang tinggal bersama Ibunya
yang tinggal di desa terpencil di pesisir pantai Sumatra Barat. Karena kemiskinan
Malin pun mempunyai niat untuk merantau supaya kelak bisa jadi orang kaya,
niatnya itu pun sebenarnya tidak izinkan oleh Ibunya tapi karena perkataan Malin
yang berkata bahwa dia akan kembali jika sudah jadi orang kaya dan tak akan
lupa pada Ibunya itulah yang membuat ia diizinkan untuk merantau sampai suatu
saat Malin pun sudah menjadi orang kaya dan sudah menikah namun ketika ia
sedang berlayar bersama istrinya ia berlabuh disebuah Dermaga yang dekat dengan
tempat tinggal semasa kecilnya dulu. Ibu Malin kundang pun langsung menghampiri
kapal tersebut dan mendekati Malin Kundang dan berkata “Malin Kundang, anakku
mengapa kau pergi begitu lama tanpa memberi kabar nak?”. Malin Kundang pun
langsung membantah bahwa wanita tua dan kotor itu adalah Ibunya. Akibat perkataan
Malin Kundang yang tidak mengakui bahwa dia adalah Ibunya, Ibu Malin Kundang pun
sedih dan menagis sambil berdoa dan mengutuk anaknya yang durhaka itu sehingga
anaknya menjadi batu. Malin Kundang pun menjadi batu karang dan batu tersebut masih
dapat dilihat di pantai Aia Manih tepatnya di selatan kota Padang, Sumatra Barat.
Sedangkan cerita rakyat nusantara Batu Menagis yang berasal dari Kalimantan Barat
menceritakan seorang anak perempunan yang durhaka terhadap Ibunya sehingga ia
dikutuk menjadi batu. Awal ceritanya yaitu seorang janda yang tinggal bersama
putrinya yang cantik dan manja bernama Darmi, mereka hidup miskin sejak ayahnya
meninggal tetapi Ibunya tetap bekerja demi menafkahi kebutuhan hidup mereka
berdua, akan tetapi putrinya yang bernama Darmi tersebut adalah seorang gadis
yang suka berdandan tiap saat dan tidak pernah bekerja sekalipun itu hanya
membantu Ibunya. Sewaktu seketika bedak Darmi habis dan ia menyuruh Ibunya
untuk membelikan bedaknya namun karena sang Ibu tidak tau apa bedak anaknya ia
menyuruh Darmi untuk ikut ke pasar
menemaninya. Namun, Marni mau ikut jika Ibunya menaati syarat yang
diajukan kepada Ibunya yaitu Ibunya harus jalan di belakang Darmi karena Darmi
malu terhadap orang karena dia memiliki seorang Ibu yang tua dan berpakaian
kotor, Ibunya pun bersabar dan menuruti syarat Darmi. Sampai di tengah
perjalanan Darmi selalu ditanyakan oleh orang-orang siapa perempuan tua yang di
belakangnnya itu apakah ibunya? namun dia selalu menjawab perempuan tua itu
adalah pembantunnya. Karena kehilangan kesabarannya melihat sikap anaknya yang
tak mengakui bahwa ia adalah Ibu kandungnya sang Ibu pun berdoa sambil mengutuk
anaknya kepada Tuhan, akibat kedurhakaan kepada Ibunya Darmi pun berubah
menjadi batu, sebelum menjadi batu sepenuhnya Darmi pun menangis dan
mengeluarkan air mata dari kedua matanya.
Adanya kemiripan dalam
segi tema antara cerita rakyat nusantara yang berjudul “Malin Kundang” dan “Batu Menangis”. Kedua cerita rakyat
nusantara itu sama-sama menceritakan kisah anak durhaka terhadap Ibunya
sehingga anaknya dikutuk menjadi batu. Kemiripan tersebut dapat dilihat dari sikap
kedua tokoh dalam cerita rakyat nusantara tersebut yang tidak mengakui Ibu
kandungnya sendiri yang telah melahirkan dan membesarkannya sehingga membuat
sakit hati yang mendalam terhadap perasaan Ibunya. Selain itu kemiripannya
terdapat diakhir cerita yang mana kedua anak tersebut sama-sama dikutuk menjadi
batu. Karena doa seorang Ibu selalu didengar Tuhan maka terjadinya hal yang
tidak diingin yaitu anaknya menjadi batu, meskipun memiliki perasaan menyesal
tetapi rasa itu tidak seberapa dibandingkan sakit hati yang dirasakan seorang Ibu
yang tidak diakui oleh anaknya sendiri.
Akibat sikap
durhaka seorang anak terhadap seorang Ibu yang telah melahirkan, merawat dan
membesarkannya terjadilah hal yang diingin. Hanya penyesalan yang terjadi. Maka
dari itu baiknya kedua cerita rakyat nusantara ini dijadikan pelajaran buat
kehidupan kita dimana seorang anak tidak boleh menyakiti hati seorang Ibu.
Kedua cerita rakyat
nusantara ini memiliki pesan moral bahwa seburuk apapun orang tua (Ibu) dia
tetap orang tua kita yang melahirkan dan membesarkan kita. Seorang anak
seharusnya berbakti, hormat dan patut terhadap orang tuanya karena doa orang
tua itu selalu didengar Tuhan dan jangan sampai seorang anak menyakiti hati
orang tua lewat tindakan dan perkataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.