Senin, 04 Juni 2012

PERBANDINGAN


Nanci Lambok Morrito

 180110110077

Sastra Indonesia/ A

Sastra Bandingan

Sikap Durhaka Seorang Anak Terhadap Ibunya
Sehingga Menimbulkan Celaka.

Dalam mata kuliah sastra bandingan ini saya akan membandingkan  dua cerita rakyat nusantara yang tema ceritanya memiliki kemiripan yaitu sama-sama menceritakan sikap anak yang durhaka terhadap ibunya dan dikutuk menjadi sebuah batu. Yaitu cerita rakyat “Malin Kundang” dari Sumatra Barat dan cerita rakyat “Batu Menangis” dari Kalimantan Barat. Sebelumnya saya akan menceritakan sinopsis kedua cerita rakyat nusantara diatas. Jika dalam cerita rakyat Malin Kundang menceritakan sebuah anak lelaki yang tinggal bersama Ibunya yang tinggal di desa terpencil di pesisir pantai Sumatra Barat. Karena kemiskinan Malin pun mempunyai niat untuk merantau supaya kelak bisa jadi orang kaya, niatnya itu pun sebenarnya tidak izinkan oleh Ibunya tapi karena perkataan Malin yang berkata bahwa dia akan kembali jika sudah jadi orang kaya dan tak akan lupa pada Ibunya itulah yang membuat ia diizinkan untuk merantau sampai suatu saat Malin pun sudah menjadi orang kaya dan sudah menikah namun ketika ia sedang berlayar bersama istrinya ia berlabuh disebuah Dermaga yang dekat dengan tempat tinggal semasa kecilnya dulu. Ibu Malin kundang pun langsung menghampiri kapal tersebut dan mendekati Malin Kundang dan berkata “Malin Kundang, anakku mengapa kau pergi begitu lama tanpa memberi kabar nak?”. Malin Kundang pun langsung membantah bahwa wanita tua dan kotor itu adalah Ibunya. Akibat perkataan Malin Kundang yang tidak mengakui bahwa dia adalah Ibunya, Ibu Malin Kundang pun sedih dan menagis sambil berdoa dan mengutuk anaknya yang durhaka itu sehingga anaknya menjadi batu. Malin Kundang pun menjadi batu karang dan batu tersebut masih dapat dilihat di pantai Aia Manih tepatnya di selatan kota Padang, Sumatra Barat. Sedangkan cerita rakyat nusantara Batu Menagis yang berasal dari Kalimantan Barat menceritakan seorang anak perempunan yang durhaka terhadap Ibunya sehingga ia dikutuk menjadi batu. Awal ceritanya yaitu seorang janda yang tinggal bersama putrinya yang cantik dan manja bernama Darmi, mereka hidup miskin sejak ayahnya meninggal tetapi Ibunya tetap bekerja demi menafkahi kebutuhan hidup mereka berdua, akan tetapi putrinya yang bernama Darmi tersebut adalah seorang gadis yang suka berdandan tiap saat dan tidak pernah bekerja sekalipun itu hanya membantu Ibunya. Sewaktu seketika bedak Darmi habis dan ia menyuruh Ibunya untuk membelikan bedaknya namun karena sang Ibu tidak tau apa bedak anaknya ia menyuruh Darmi untuk ikut ke pasar  menemaninya. Namun, Marni mau ikut jika Ibunya menaati syarat yang diajukan kepada Ibunya yaitu Ibunya harus jalan di belakang Darmi karena Darmi malu terhadap orang karena dia memiliki seorang Ibu yang tua dan berpakaian kotor, Ibunya pun bersabar dan menuruti syarat Darmi. Sampai di tengah perjalanan Darmi selalu ditanyakan oleh orang-orang siapa perempuan tua yang di belakangnnya itu apakah ibunya? namun dia selalu menjawab perempuan tua itu adalah pembantunnya. Karena kehilangan kesabarannya melihat sikap anaknya yang tak mengakui bahwa ia adalah Ibu kandungnya sang Ibu pun berdoa sambil mengutuk anaknya kepada Tuhan, akibat kedurhakaan kepada Ibunya Darmi pun berubah menjadi batu, sebelum menjadi batu sepenuhnya Darmi pun menangis dan mengeluarkan air mata dari kedua matanya.

Adanya kemiripan dalam segi tema antara cerita rakyat nusantara yang berjudul “Malin  Kundang” dan “Batu Menangis”. Kedua cerita rakyat nusantara itu sama-sama menceritakan kisah anak durhaka terhadap Ibunya sehingga anaknya dikutuk menjadi batu. Kemiripan tersebut dapat dilihat dari sikap kedua tokoh dalam cerita rakyat nusantara tersebut yang tidak mengakui Ibu kandungnya sendiri yang telah melahirkan dan membesarkannya sehingga membuat sakit hati yang mendalam terhadap perasaan Ibunya. Selain itu kemiripannya terdapat diakhir cerita yang mana kedua anak tersebut sama-sama dikutuk menjadi batu. Karena doa seorang Ibu selalu didengar Tuhan maka terjadinya hal yang tidak diingin yaitu anaknya menjadi batu, meskipun memiliki perasaan menyesal tetapi rasa itu tidak seberapa dibandingkan sakit hati yang dirasakan seorang Ibu yang tidak diakui oleh anaknya sendiri.
            Akibat sikap durhaka seorang anak terhadap seorang Ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkannya terjadilah hal yang diingin. Hanya penyesalan yang terjadi. Maka dari itu baiknya kedua cerita rakyat nusantara ini dijadikan pelajaran buat kehidupan kita dimana seorang anak tidak boleh menyakiti hati seorang Ibu.
Kedua cerita rakyat nusantara ini memiliki pesan moral bahwa seburuk apapun orang tua (Ibu) dia tetap orang tua kita yang melahirkan dan membesarkan kita. Seorang anak seharusnya berbakti, hormat dan patut terhadap orang tuanya karena doa orang tua itu selalu didengar Tuhan dan jangan sampai seorang anak menyakiti hati orang tua lewat tindakan dan perkataan.





































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.