Senin, 04 Juni 2012

Ekranisasi


Nanci Lambok Morrito

180110110077

Sastra Indonesia/A

Sastra Bandingan


Perbedaan Akhir Cerita dalam Novel dan Film
My Sister’s Keeper

Ekranisasi merupakan pemindahan atau pengangkatan karya satra yang berbentuk sebuah novel kedalam sebuah film. Pemindahan ini akan menimbulkan sebuah perubahaan dalam karya sastra misalnya dapat dilihat pada cerita, latar, tokoh ataupun tema, perubahan ini juga bisa disebabkan karena beberapa faktor misalnya saja karena penulis skenario sengaja mengubahnya agar lebih  mudah terlihat penyampaian pesan yang akan disampaikan novel tersebut kedalam sebuah film.

Banyak juga terjadi pengurangan atau penambahan dalam setiap dialog-dialog dalam novel yang tidak disampaikan dalam film hal ini disebabkan karena durasi film yang singkat sehingga penulis skenario dan sutradara  sebisa mungkin hanya memasukan dialog-dialog atau adegan-adegan yang dianggap penting saja.

Hal itu merupakan suatu interpretasi sutradara agar setiap adegan tidak terlalu kaku seperti dalam novelnya, maka dari itu tak heran jika masyarakan (pembaca/penonton) banyak menilai lebih bagus novel dibandingkan filmnya, karena dalam novel lebih detail dalam menceritakannya.  Sedangkan dalam sebuah film hanya bagian-bagian tertentu yang dimasukan. Interprestasi pembaca dapat dilihat dalam ekranisasi ini, maka dari itu pengembangan imajinasi antara penulis dan penonton sangat dibutuhkan.

            My Sister's Keeper yang disutradarai oleh Nick Cassavetes yang diadaptasi dari novel My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult yang berjudul sama. My Sister's Keeper dan adaptasi oleh Jeremy Leven. Film My Sister's Keeper dirilis di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko dan Britania Raya pada tahun 2009.

Dalam ekranisasi My Sister’s Keeper  menurut saya ada beberapa perbedaan yang timbul yaitu pada penggambaran karakter dari setiap tokoh yang ada dinovel menjadi tokoh dalam film, serta jalan cerita sedikit berbeda yang sangat terlihat berbeda drastis pada akhir ceritanya. Serta penambahan dan mengurangan setiap adegan dan dialog.
           
Menurut saya sebagai pembaca dan penonton saya berpendapat bahwa novel dan film My Sister’s Keeper sama-sama bagus meskipun terdapat jelas perbedaan pada akhir cerita dalam novel dan filmnya. Film yang berdurasi 109 menit ini sangatlah singkat dari isi cerita novel My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult.

Banyak dialog-dialog yang terdapat dalam novel tidak dimasukan dalam filmnya hal ini disebabkan karena waktu yang tidak memungkinkan, biasanya durasi film hanya 2 jam saja sedangkan dalam novel My Sister’s Keeper terdiri dari 523 halaman, maka dari itu penulis skenario dan sutradara bekerja sama sepintar-pintarnya hanya memasukan setiap dialog yang terdapat dalam novel hanya yang dianggap pentingnya saja. Seperti dialog Jesse yang menceritakan secara detail sifat dan kelakuan nakal Jesse, banyak dialog Campbell yang tidak disoroti dalam filmnya dan masih banyak lagi dialog-dialog dalam novel yang tidak disoroti dalam filmnya hal ini juga mungkin karena terpaku pada judulnya yaitu Penyelamat Kakakku yang dalam filmnya lebih banyak menampilkan tokoh Kate dan Anna serta dimulai dari awal film ini yang diawali dari sudut pandang Anna.

Perubahan yang terjadi pada akhir cerita bisa terjadi karena beberapa hal. Bisa saja karena Sutradara ingin memunculkan karya sastra baru sehingga jalan cerita dalam film tidak terlalu sama dengan novelnya. Kemungkin hal ini diubah agar masyarakat (pembaca/penonton) tidak memandang negatif terhadap sikap dan tindakan seorang Ibu dalam novelnya yang tega mengambil beberapa organ tubuh dari putri keduanya demi keselamatan putri pertamannya.

Di dalam novel My Sister’s Keeper akhir ceritanya menceritakan bahwa Anna meninggal dunia karena koma akibat kecelakaan mobil yang dialami dia dan pengacaranya Campbell setelah selesai persidangan, meskipun Campbell selamat dalam kecelakaan itu, tetapi tidak dengan Anna.
“kepala Anna membentur jendela dengan keras, Mrs. Fitzgerald. Benturan itu
 menyebabkan luka kepala yang fatal. Respirator membuat tetap bernapas
 saat ini, tapi otaknya tidak menunjukan tanda-tanda kehidupan- otaknya
 mati.” (hal 512).
Kate mampu bertahan hidup karena telah melakukan transplantasi ginjal yang diberikan oleh Anna, sedangkan Jesse telah lulus akademik kepolisian, hal ini berbeda jauh pada filmnya.
           
Sedangkan dalam film My Sister’s Keeper akhir ceritanya yaitu Kate meninggal di rumah sakit dengan ditemani oleh Ibunya di ranjang rumah sakit.  Jesse melanjutkan sekolahnya ke bidang seni dan Anna hidup seperti anak lain dan tidak berurusan pada hal medik lagi serta Ibunya memulai pekerjaan barunya dan Ayahnya berhenti dari pekerjaan pemadam kebakaran dan menjadi konseling remaja.

Menurut saya Nick Cassavetes sebagai sutradara film My Sister’s Keeper  sengaja mengubah akhir pada film ini yang diadaptasi dalam novelnya agar pesan moralnya lebih mudah disampaikan dan ditangkap oleh penonton serta agar masyarakat (pembaca/penonton) tidak berpikir negatif terhadap seorang Ibu dalam novelnya karena di cover novel My Sister’s Keeper ada sebuah kalimat
“jika kau menggunakan cara yang salah secara moral untuk menyelamatkan hidup anakmu, apakah itu menjadikanmu ibu yang buruk?.”

Dilihat dari sepenggal kalimat itu sutradara dan penulis skenario sengaja mengubah akhir ceritanya agar masyarakat (penonton/pembaca) tidak berpikir buruk pada seorang ibu yang berusaha keras menyelamatkan anak pertamanya yang sudah mengalami penyakit dari kecil dengan berbagai cara salah satunya dengan membuat bayi tabung dan mengambil sebagian organ dari tubuh putri keduanya ketika putri pertamanya sedang membutuhkannya serta mengabaikan anak-anaknya yang lain.

Selain itu, penulis skenario dan sutradara juga mengubah akhir cerita karena dilihat dari ketidak logisan akan penyakit yang diderita oleh Kate yang diagnosa oleh dokter penyakitnya sudah parah dan tidak mungkin bertahan hidup lama serta kemungkinan terbesar jika melakukan operasi ginjal akan gagal. Kate dapat bertahan hidup saja sampai saat sebelum ia melakukan operasi ginjal itu berkat mujizat serta usaha-usaha yang dilakukan keluarganya dan rasa ketidak relaan seorang Ibu melepaskan Kate yang sebenarnya sudah pasrah dengan penyakitnya tersebut.
“untuk waktu yang lama, aku sakit. Transplantasi tersebut nyaris gagal, kemudian tanpa bisa dijelaskan, lambat laun aku mulai membaik, sudah delapan tahun berlalu sejak penyakitku kambuh terakhir kalinya, dan bahkan Dr. Chance pun tidak bisa mengerti. Menurutnya itu berkat kombinasi pengobatan ARTA dan terapi arsenik-ada yang memberikan hasil yang lebih lambat-tapi aku lebih tahu, disini seorang harus pergi, dan Anna mengambil tempatku.” (hal: 520)

Dilihat dari realita kehidupan tidak mungkin Kate dapat bertahan hidup sehat selama itu meskipun sudah melakukan transplantasi ginjal. Sehingga penulis skenario dan sutradara mengubah secara drastis akhir cerita dalam filmnya agar terlihat lebih realita dalam kehidupan serta banyak ketidak samaan jalan cerita yang ada di novel dan filmnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.