Nanci Lambok Morrito
180110110077
Sastra Indonesia/A
Sastra Bandingan
Perbedaan Akhir Cerita dalam Novel dan Film
My Sister’s Keeper
Ekranisasi merupakan pemindahan atau pengangkatan karya
satra yang berbentuk sebuah novel kedalam sebuah film. Pemindahan ini akan
menimbulkan sebuah perubahaan dalam karya sastra misalnya dapat dilihat pada
cerita, latar, tokoh ataupun tema, perubahan ini juga bisa disebabkan karena
beberapa faktor misalnya saja karena penulis skenario sengaja mengubahnya agar
lebih mudah terlihat penyampaian pesan
yang akan disampaikan novel tersebut kedalam sebuah film.
Banyak juga terjadi pengurangan atau penambahan dalam
setiap dialog-dialog dalam novel yang tidak disampaikan dalam film hal ini
disebabkan karena durasi film yang singkat sehingga penulis skenario dan
sutradara sebisa mungkin hanya memasukan
dialog-dialog atau adegan-adegan yang dianggap penting saja.
Hal itu merupakan suatu interpretasi sutradara agar
setiap adegan tidak terlalu kaku seperti dalam novelnya, maka dari itu tak
heran jika masyarakan (pembaca/penonton) banyak menilai lebih bagus novel
dibandingkan filmnya, karena dalam novel lebih detail dalam menceritakannya. Sedangkan dalam sebuah film hanya
bagian-bagian tertentu yang dimasukan. Interprestasi pembaca dapat dilihat
dalam ekranisasi ini, maka dari itu pengembangan imajinasi antara penulis dan
penonton sangat dibutuhkan.
My
Sister's Keeper yang disutradarai oleh Nick Cassavetes yang diadaptasi dari
novel My Sister’s Keeper karya Jodi
Picoult yang berjudul sama. My Sister's
Keeper dan adaptasi oleh Jeremy Leven. Film My Sister's Keeper dirilis di
Amerika Serikat, Kanada, Meksiko dan Britania Raya pada tahun 2009.
Dalam ekranisasi My
Sister’s Keeper menurut saya ada
beberapa perbedaan yang timbul yaitu pada penggambaran karakter dari setiap
tokoh yang ada dinovel menjadi tokoh dalam film, serta jalan cerita sedikit
berbeda yang sangat terlihat berbeda drastis pada akhir ceritanya. Serta
penambahan dan mengurangan setiap adegan dan dialog.
Menurut saya sebagai pembaca dan penonton saya berpendapat
bahwa novel dan film My Sister’s Keeper sama-sama bagus meskipun terdapat jelas
perbedaan pada akhir cerita dalam novel dan filmnya. Film yang berdurasi 109
menit ini sangatlah singkat dari isi cerita novel My Sister’s Keeper karya Jodi Picoult.
Banyak dialog-dialog yang terdapat dalam novel tidak
dimasukan dalam filmnya hal ini disebabkan karena waktu yang tidak
memungkinkan, biasanya durasi film hanya 2 jam saja sedangkan dalam novel My
Sister’s Keeper terdiri dari 523 halaman, maka dari itu penulis skenario dan
sutradara bekerja sama sepintar-pintarnya hanya memasukan setiap dialog yang
terdapat dalam novel hanya yang dianggap pentingnya saja. Seperti dialog Jesse
yang menceritakan secara detail sifat dan kelakuan nakal Jesse, banyak dialog
Campbell yang tidak disoroti dalam filmnya dan masih banyak lagi dialog-dialog
dalam novel yang tidak disoroti dalam filmnya hal ini juga mungkin karena
terpaku pada judulnya yaitu Penyelamat Kakakku yang dalam filmnya lebih banyak
menampilkan tokoh Kate dan Anna serta dimulai dari awal film ini yang diawali
dari sudut pandang Anna.
Perubahan yang terjadi pada akhir cerita bisa terjadi
karena beberapa hal. Bisa saja karena Sutradara ingin memunculkan karya sastra
baru sehingga jalan cerita dalam film tidak terlalu sama dengan novelnya. Kemungkin
hal ini diubah agar masyarakat (pembaca/penonton) tidak memandang negatif
terhadap sikap dan tindakan seorang Ibu dalam novelnya yang tega mengambil
beberapa organ tubuh dari putri keduanya demi keselamatan putri pertamannya.
Di dalam novel My Sister’s
Keeper akhir ceritanya menceritakan bahwa Anna meninggal dunia karena koma
akibat kecelakaan mobil yang dialami dia dan pengacaranya Campbell setelah
selesai persidangan, meskipun Campbell selamat dalam kecelakaan itu, tetapi
tidak dengan Anna.
“kepala Anna
membentur jendela dengan keras, Mrs. Fitzgerald. Benturan itu
menyebabkan luka kepala yang fatal. Respirator
membuat tetap bernapas
saat ini, tapi otaknya tidak menunjukan
tanda-tanda kehidupan- otaknya
mati.” (hal 512).
Kate mampu bertahan hidup karena telah melakukan
transplantasi ginjal yang diberikan oleh Anna, sedangkan Jesse telah lulus
akademik kepolisian, hal ini berbeda jauh pada filmnya.
Sedangkan dalam film My Sister’s Keeper akhir ceritanya
yaitu Kate meninggal di rumah sakit dengan ditemani oleh Ibunya di ranjang
rumah sakit. Jesse melanjutkan
sekolahnya ke bidang seni dan Anna hidup seperti anak lain dan tidak berurusan
pada hal medik lagi serta Ibunya memulai pekerjaan barunya dan Ayahnya berhenti
dari pekerjaan pemadam kebakaran dan menjadi konseling remaja.
Menurut saya Nick Cassavetes sebagai sutradara film My Sister’s
Keeper sengaja mengubah akhir pada film
ini yang diadaptasi dalam novelnya agar pesan moralnya lebih mudah disampaikan dan
ditangkap oleh penonton serta agar masyarakat (pembaca/penonton) tidak berpikir
negatif terhadap seorang Ibu dalam novelnya karena di cover novel My Sister’s Keeper ada sebuah kalimat
“jika kau menggunakan cara yang salah secara moral untuk
menyelamatkan hidup anakmu, apakah itu menjadikanmu ibu yang buruk?.”
Dilihat dari sepenggal kalimat itu sutradara dan penulis
skenario sengaja mengubah akhir ceritanya agar masyarakat (penonton/pembaca)
tidak berpikir buruk pada seorang ibu yang berusaha keras menyelamatkan anak
pertamanya yang sudah mengalami penyakit dari kecil dengan berbagai cara salah
satunya dengan membuat bayi tabung dan mengambil sebagian organ dari tubuh putri
keduanya ketika putri pertamanya sedang membutuhkannya serta mengabaikan
anak-anaknya yang lain.
Selain itu, penulis skenario dan sutradara juga mengubah
akhir cerita karena dilihat dari ketidak logisan akan penyakit yang diderita
oleh Kate yang diagnosa oleh dokter penyakitnya sudah parah dan tidak mungkin
bertahan hidup lama serta kemungkinan terbesar jika melakukan operasi ginjal
akan gagal. Kate dapat bertahan hidup saja sampai saat sebelum ia melakukan
operasi ginjal itu berkat mujizat serta usaha-usaha yang dilakukan keluarganya
dan rasa ketidak relaan seorang Ibu melepaskan Kate yang sebenarnya sudah
pasrah dengan penyakitnya tersebut.
“untuk waktu yang lama, aku sakit. Transplantasi tersebut
nyaris gagal, kemudian tanpa bisa dijelaskan, lambat laun aku mulai membaik,
sudah delapan tahun berlalu sejak penyakitku kambuh terakhir kalinya, dan
bahkan Dr. Chance pun tidak bisa mengerti. Menurutnya itu berkat kombinasi
pengobatan ARTA dan terapi arsenik-ada yang memberikan hasil yang lebih
lambat-tapi aku lebih tahu, disini seorang harus pergi, dan Anna mengambil
tempatku.” (hal: 520)
Dilihat dari realita kehidupan tidak mungkin Kate dapat
bertahan hidup sehat selama itu meskipun sudah melakukan transplantasi ginjal. Sehingga
penulis skenario dan sutradara mengubah secara drastis akhir cerita dalam
filmnya agar terlihat lebih realita dalam kehidupan serta banyak ketidak samaan
jalan cerita yang ada di novel dan filmnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.