Senin, 04 Juni 2012

HAIKU


Nanci Lambok Morrito

180110110077

Sastra Indonesia/ A

Sastra Bandingan

Perbandingan Tema Haiku terjemahanan Amerika dengan Haiku Indonesia terhadap Haiku Jepang


Sebuah puisi pendek yang berasal dari Jepang yang terdiri dari 14-17 silabe atau suku kata yang kemudian terbagi menjadi 3 larik atau baris. Meskipun puisi ini termasuk puisi yang sangat pendek di dalam karya sastra namun isi puisi Haiku ini mengandung suatu arti jika kita pahami. Puisi jenis Haiku juga menggambarkan sebuah citraan, yang biasanya puisi Haiku Jepang mendefinisikan suatu musim. Karya puisi jenis Haiku yang sangat populer yaitu karya Matsuo Basho dan masih banyak lagi penyair Haiku yang terkenal.
Disini saya membandingkan 2 karya puisi jenis Haiku terjemahan yang berbeda yaitu karya Rees Evans dari Amerika dan karya Eka Budiata dari Indonesia. Keduanya memiliki kesamaan yang dapat dibandingkan, misalnya saja dari isi puisi haiku tersebut. Keduanya sama-sama terdiri dari 3 baris.
Berikut puisi Haiku yang akan saya bandingkan :

·         Karya Rees Evans (Amerika)

                   Movie exit —
shrinking back
to life-size

(terjemahan)

Film usai
kembali menyusut
kehidupan nyata

·         Karya Eka Budianta (Indonesia)

Aku tersedu
berguru pada semut
menempuh hidup.

Keduanya puisi Haiku ini sama-sama menceritakan tentang kehidupan. Menurut yang saya tangkap tentang pemahaman dari isi puisi Haiku terjemahan karya Rees Evans menggambarkan sebuah kehidupan yang nyata yang harus dilalui dan bukan dalam sebuah film, yg mungkin di dalam sebuah film banyak hal-hal yang ditontonkan tentang sebuah kehidupan yang menyenangkan. Namun, tidak pada kehidupan nyata. Arti dari keseluruhan isi Haiku itu menurut saya sebuah film yang telah tamat, dan setelah menontonnya, kita harus kembali kepada kehidupan nyata yang harus dijalani. Sedangkan puisi Haiku karya Eka Budianta sama saja dengan isi puisi Haiku karya Rees Evans hanya saja dalam puisi Haiku karya Eka Budianta melihat sebuah kehidupan dari semut, yang mana semut itu seekor binatang yang kecuah kecil yang tetap bisa bertahan meskipun tubuhnya kecil. Eka Budianta menggambarkan sebuah kehidupan yang harus ditiru dari seekor semut yang kecil, meskipun kecil semut itu tetap bisa bertahan hidup, sama seperti manusia yang harus tetap menempuh hidup.
            Puisi Haiku yang telah diterjemahkan ada sedikit perbedaan dengan puisi Haiku Jepang, Haiku Jepang memilik unsur-unsur dalam membuat Haiku terutama dari isinya, penyair Jepang membuat puisi Haiku ter-ide dari sebuah musim, dan hal inilah yang membuat ciri khas puisi Haiku. Namun, penyair puisi Haiku yang bukan berasal dari Jepang biasanya cenderung membuat puisi Haiku bebas, dan tidak didasarkan oleh musim yang bisa dikatakan sebagai ciri khas puisi jenis Haiku. Terdapat juga silabe atau suku kata antara puisi Haiku Jepang dengan puisi Haiku non Jepang yang berbeda, serta puisi Haiku terjemahan yang berasal dari Jepang ke dalam bahasa Indonesia juga terlihat perbedaan suku katannya. Berikut puisi Haiku Jepang dan terjemahannya karya Matsuo Basho :

"Furu ike ya kawazu tobikomu mizu no oto"

Sajak pendek haiku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi:

An old pond

a frog jumps in

the sound of water

Lalu, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi:

Kolam nan tua

katak terjun ke dalam

gelembung air





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.