Nanci Lambok Morrito
180110110077
Sastra Indonesia/ A
Sastra Bandingan
Perbandingan Tema Haiku terjemahanan Amerika dengan Haiku
Indonesia terhadap Haiku Jepang
Sebuah puisi pendek yang berasal dari Jepang yang terdiri
dari 14-17 silabe atau suku kata yang kemudian terbagi menjadi 3 larik atau
baris. Meskipun puisi ini termasuk puisi yang sangat pendek di dalam karya
sastra namun isi puisi Haiku ini mengandung suatu arti jika kita pahami. Puisi jenis
Haiku juga menggambarkan sebuah citraan, yang biasanya puisi Haiku Jepang
mendefinisikan suatu musim. Karya puisi jenis Haiku yang sangat populer yaitu
karya Matsuo Basho dan masih banyak lagi penyair Haiku yang terkenal.
Disini saya membandingkan 2 karya puisi jenis Haiku terjemahan
yang berbeda yaitu karya Rees Evans dari Amerika dan karya Eka Budiata dari Indonesia.
Keduanya memiliki kesamaan yang dapat dibandingkan, misalnya saja dari isi
puisi haiku tersebut. Keduanya sama-sama terdiri dari 3 baris.
Berikut puisi Haiku yang akan saya bandingkan :
·
Karya
Rees Evans (Amerika)
Movie exit —
shrinking back
to life-size
(terjemahan)
Film usai
kembali menyusut
kehidupan nyata
·
Karya
Eka Budianta (Indonesia)
Aku tersedu
berguru pada semut
menempuh hidup.
Keduanya puisi Haiku ini sama-sama menceritakan tentang
kehidupan. Menurut yang saya tangkap tentang pemahaman dari isi puisi Haiku
terjemahan karya Rees Evans menggambarkan sebuah kehidupan yang nyata yang
harus dilalui dan bukan dalam sebuah film, yg mungkin di dalam sebuah film
banyak hal-hal yang ditontonkan tentang sebuah kehidupan yang menyenangkan.
Namun, tidak pada kehidupan nyata. Arti dari keseluruhan isi Haiku itu menurut
saya sebuah film yang telah tamat, dan setelah menontonnya, kita harus kembali
kepada kehidupan nyata yang harus dijalani. Sedangkan puisi Haiku karya Eka Budianta
sama saja dengan isi puisi Haiku karya Rees Evans hanya saja dalam puisi Haiku
karya Eka Budianta melihat sebuah kehidupan dari semut, yang mana semut itu
seekor binatang yang kecuah kecil yang tetap bisa bertahan meskipun tubuhnya
kecil. Eka Budianta menggambarkan sebuah kehidupan yang harus ditiru dari
seekor semut yang kecil, meskipun kecil semut itu tetap bisa bertahan hidup,
sama seperti manusia yang harus tetap menempuh hidup.
Puisi Haiku yang telah diterjemahkan
ada sedikit perbedaan dengan puisi Haiku Jepang, Haiku Jepang memilik
unsur-unsur dalam membuat Haiku terutama dari isinya, penyair Jepang membuat
puisi Haiku ter-ide dari sebuah musim, dan hal inilah yang membuat ciri khas
puisi Haiku. Namun, penyair puisi Haiku yang bukan berasal dari Jepang biasanya
cenderung membuat puisi Haiku bebas, dan tidak didasarkan oleh musim yang bisa
dikatakan sebagai ciri khas puisi jenis Haiku. Terdapat juga silabe atau suku
kata antara puisi Haiku Jepang dengan puisi Haiku non Jepang yang berbeda,
serta puisi Haiku terjemahan yang berasal dari Jepang ke dalam bahasa Indonesia
juga terlihat perbedaan suku katannya. Berikut puisi Haiku Jepang dan terjemahannya
karya Matsuo Basho :
"Furu ike ya kawazu tobikomu mizu no oto"
Sajak pendek haiku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi:
An old pond
a frog jumps in
the sound of water
Lalu, diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi:
Kolam nan tua
katak terjun ke dalam
gelembung air
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.