Senin, 04 Juni 2012

FILM 1


Kajian Film November 1828
Tugas mata kuliah Apresiasi Film Indonesia

 

Nanci Lambok Morrito
180110110077
Kelas A


Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
2011 /2012






PENDAHULUAN

Sejarah Pembuatan Film November 1828
Sutradara Teguh Karya

Awal sejarah pembuatan film November 1828 ini bermula dari seorang yang bernama Teguh Karya, ia menciptakan film ini dari sebuah kisah nyata yang terjadi di daerah Jawa tepatnya pada abad ke- 19.  Naskah sejarah ini sudah pernah mengalami perubahan. Film yang berdurasi sekitar 140 menit dan menghabiskan dana sekitar 240 juta rupiah. Pada daat itu kondisi sosial-budaya masih kental pada adat istiadat leluhur. Film ini dibuat pada tahun 1978 yang ditulis dan disutradarai oleh Teguh Karya, yang diproduseri oleh Njoo Han Siang, Ronald Lolang, Hendrick Gozali dan disamping itu juga ada pemeran-pemeran dalam film ini mereka adalah Slamet Rahardjo, Maruli Sitompul, Jenny Rachman, Sunarti Rendra dan Rachmat Hidayat dan masih banyak lagi pemeran-pemeran pembantu.
Menurut artikel yang telah saya baca, yang tertera di situs internet (http://www.i-dus.com/2012/03/film-film-perjuangan-indonesia-jaman.html)
“November 1828 merupakan salah satu film karya sutradara besar Teguh Karya. Film produksi 1978 ini berlatar kisah peperangan Diponegoro. Ditengah suasana perang Diponegoro Kapiten De Borst (Slamet Rahardjo), seorang indo sangat ingi membuktikan diri sebagai Belanda yang murni. Untuk membuktikannya ia harus berhasil menangkap Sentot Prawirodirdjo otak peperangan Diponegoro. Segala cara ia lakukan termasuk menyandera anak dan istrinya.”

Film ini dibuat juga sebagai film dokumenter Indonesia, yang bisa dijadikan bukti sejarah bahwa mungkin seperti inilah yang pernah terjadi pada tahun 1828.

B. Unsur-unsur yang dianggap menarik serta jalan cerita dari film November 1828
November 1828
 Setelah saya menonton film November 1828 sutradara Teguh Karya, menurut saya film ini menceritakan sebuah perjuangan rakyat Jawa untuk bisa lepas dari tangan Belanda serta ingin merebut kembali daerah mereka yang dijadikan benteng oleh Belanda dan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi didaerah itu. Didalam film ini juga terdapat hal-hal yang menarik dalam segala unsur yaitu unsur politik, agama dan sosial. Banyak pesan yang disampaikan dalam film ini antara lain: kepemimpinan, kejujuran, kesabaran, rasa cinta terhadap tanah air, rela berkorban dan kebersamaan. Aspek keagaman juga masih kuat pada kehidupan dalam film ini yang bisa digambarkan melalui pengikut-pengikut Sentot Prawirodirdjo yang mengaji dan tinggal diwilayah pesantren dan istri Kromoludiro yang sholat saat suaminya ditahan oleh pasukan Belanda, serta amanat yang disampaikan Sentot untuk Kapten De Borst masih meminta bantuan kepada Allah. Itulah unsur keagamaanya yang terdapat pada film ini. Sedangkan menurut saya film ini sendiri sangat berfokus pada masalah politik dan tujuan pribadi yang dilakukan oleh Kapten De Borst. Sesungguhnya latar belakang kehidupan Kapten De Borst ini sendiri adalah orang Indo yang mana ia sendiri orang keturunan Indonesia Belanda. Ia melakukan semua ini adalah untuk tujuan pribadinya yaitu karena ingin mengejar karir kemiliteran dan untuk bisa menjadi orang keturunan Belanda sesungguhnya. Hal ini dilakukan dengan upaya menangkap Sentot Prawirodirdjo. Unsur sosialnya adalah cara rakyat Jawa bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang ada. Disini saya akan menceritakan sekilas isi film November 1828.
Kapten De Borst bersama pasukannya datang ke desa Sambiroto Jawa untuk mencari tahu keberadaan Sentot Prawirodirdjo lewat pengikut-pengikut Sentot yang ada di kampung itu, dia adalah pengikut Pangeran Diponegora dan bisa dibilang  tangan kanan Pangeran Diponogoro. Kapten De Borst memerintahkan seorang Demang kampung itu untuk mencari tau  siapa saja pengikut Sentot Prawirodirdjo yang ada di kampungnya. Demang ini pun sangat serakah dan licik bahkan ia tega menaiki harga pajak kepada rakyatnya sehingga rakyatnya makin miskin. Demang itu pun memberitahu bahwa yang bernama Kromoludiro adalah salah satu pengikut Sentot Prawirodirdjo. Pihak Belanda pun langsung segera menangkap Kromoludiro dan membawanya pulang kerumahnya. Setelah di perjalan pasukan Belanda serta Kromoludiro berpapasan dengan Demang mereka melakukan percakapan, serta Kapten De Borst mengucapkan terima kasih kepada Demang karena memberitahukan keberadaan pengikut Sentot Prawirodirdjo. Dan Kapten De Borst memberi upeti kepada Demang itu dan De Borst berjanji akan memberikan upeti lebih, jika Demang itu bisa menangkap Sentot Prawirodirdjo. Setelah sampai di rumah Kromoludiro, Kapten De Borst menyuruh pasukannya untuk mengumpulkan keluarganya. Istri Kromoludiro sangat marah terhadap Demang itu, dan ia mengucap kata “ular beludak” yang ditujukan kepada Demang. Ular beludak itu sendiri yaitu seekor ular yang rupannya jelek, gemuk, pendek, malas, dan banyak makan. Sebutan ini sangat tepat untuk Demang.
Kapten De Borst menjadikan daerah rumah Kromoludiro sebagai benteng sementara. Keluarga Kromoludiro tidak dapat berbuat apa-apa selain mereka hanya bisa melihat perlakuan orang Belanda itu. Ada sekelompok pemuda Padepokan yang ingin menghentikan tindakan para Belanda, mereka mengatur strategi dan 3 orang pemuda yang bernama Mono, Jarot dan Tulus melempari benteng Belanda dengan api dan menusukan sebuah pisau yang ada kertasnya yang berisi sebuah amanat dari Sentot Prawirodirdjo. Hal ini diketahui pasukan Belanda dan Kapten De Borst langsung membukanya serta ia ingin membacanya namun karena isi tulisannya berisi tulisan arab sehingga ia tidak mengerti dan memerintahkan Van Aken untuk membacakanya beginilah isi surat itu “assalamualaikum, bismilahirohmanirohim. Tuan-tuan mesti mengetahui bahwa tanah di mana saat ini tuan-tuan berdiri adalah sebagian dari tanah Jawi negeri leluhur kami. Atas bantuan Allah mudah-mudahan dalam waktu dekat ini kami sudah dapat memililkinya lagi dan membebaskan orang-orang kami yang tuan tangkap. Nyawa kami adalah taruhannya. Amin amin yarobalalamin. Sentot Albasyah  Abdul Prawirodirdjo.”
Mendengar isi surat itu Kapten De Borst sangat marah dan langsung memerintahkan pasukannya untuk menanyakan kepada Kromoludiro tentang Sentot Prawirdirdjo. Karena Kromoludiro tidak mau mengatakan tentang keberadaan Sentot Prawirodirdjo, Kapten De Borst pun langsung memerintahkan pasukannya untuk memisahkan anak-anaknya Kromoludiro, namun Van Aken tidak setuju dengan cara De Borst karena ia merasa tindakan De Borst sudah tidak manusiawi. Lalu Van Aken memberikan usulan kepada Kapten De Borst agar anak perempuannya Kromoludiro yang bernama Laras saja yang menanyakan tentang keberadaan Sentot Prawirodirdjo, mungkin saja lewat cara ini Kromoludiro bisa mengatakan keberadaan Sentot Prawirodirdjo, namun Kromoludiro malah berkata “Sebuah pademangan jika terdiri dari banyak maling akan membuat sebuah kabupaten tidak bisa berdiri. Sebuah kabupaten jika terdiri dari banyak maling tidak bisa membuat sebuah kepatihan berdiri. Sebuah kepatihan jika terdiri dari banyak maling tidak bisa membuat sebuah kesultanan berdiri kokoh. Jika penduduk sebagian besar terdiri dari maling, maka lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke dasar laut.”
Perkataan Kromoludiro itu didengar oleh Van Aken. Sejenak Van Aken berfikir kata-kata itu.
Pada suatu hari datang seorang lelaki yang ternyata itu adalah anaknya Demang, ia berkata kepada Kapten De Borst bahwa ia akan membantunya asalkan ia bisa mengawini anaknya Kromoludiro, namun itu semua hanyalah siasat lelaki itu, ternyata ia datang ke benteng Belanda untuk meracuni makanan yang akan dimakan oleh pasukan Belanda. Kejadian itu terjadi dan sekitar 4 orang pasukan Belanda tewas karena keracunan, Kapten De Borst pun marah dan memerintahkan menangkap lelaki itu, lelaki itu pun mencoba lari namun ia ditembak. Kapten De Borst pun bertindak dan menanyai kepada Kromoludiro karena Kromoludiro tetap bungkam. Kapten De Borst memerintahkan pasukannya untuk memisahkan anak-anakknya Kromoludiro namun, Van Aken tidak tega melihat itu, lalu ia berkata kepada Kapten De Borst kejadiaan yang sesungguhnya bahwa ialah yang telah memberitahukan semua rencana yang akan dilakukan Belanda terhadap tanah Jawa itu, “pada tanggal 2 agustus menemui Sentot dan memberitahukan akan ada penyerangan besar-besaran pada tanngal 5 september, dan ia memberitahukan markas Sentot dekat sebuah sungai,” itulah yang dikatakan Van Aken dengan pelan-pelan, namun perkataan Van Aken belum selesai, sedangakan Kromoludiro berusaha menyangkal perkataan Van Aken, karena emosinya tak tertahan lagi ia menembak Kromoludiro, dan ia pun tewas.
Setelah kejadian tewasnya Kromoludiro, prajurit-prajurit Belanda sedang berbincang-bincang dan mereka berfikir bahwa sebenarnya Kapten De Borstlah yang terlalu kejam akan tindakannya dan Van Aken membela yang benar, dan mereka berniat untuk membebaskan Van Aken namun, ada 1 orang yang tak setuju dengan hal itu dan dia ingin memberitahukan kepada Kapten De Borst tetapi sebelum orang itu sampai menemui Kapten De Borst ia ditembak agar rencana mereka tidak ketawan. Van Aken berkata kepada Kapten De Borst bahwa “peperaangan mempunyai pertimbangan kemanusiaan disamping taktik dan tujuan De Borst.” Ia berkata bahwa ambisi De Borst hanya menambah korban saja yaitu seperti yang telah dilakukan di peperangan yang pernah terjadi di belenggu, kembang arum, belengkong.
            Pada malam hari Kapten De Borst melihat pertunjukan tradisional yang dipersembahkan oleh rakyat Jawa, ternyata pertunjukan itu adalah sebuah rencana yang dilakukan rakyat Jawa untuk bisa menyerang Belanda. Lantas terjadilah perang kecil antara pasukan Belanda dan rakyat Jawa. Kesesokan harinya rakyat bersama-sama mencoba membuka gerbang markas pasukan Kapten De Borst terjadi perang baku tembak antara Belanda dan rakyat Jawa, banyak yang gugur diantara kedua belah pihak. Datanglah serombongan berkuda yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirdjo, ketika sebagian pasukan De Borst gugur, tinggallah De Borst seorang diri dan ia ditembak oleh anak lelaki Kromoludiro.
Sampai akhir cerita pun film ini tidak menampakan sosok Pangeran Diponegoro yang selalu dikaitkan dalam konflik Kapten De Borst, juga Sentot Prawiro hanya muncul pada akhir cerita saat perang terjadi. Itulah sekilas jalan cerita film November 1828 yang telah saya tonton.
            Dalam akhir cerita Sentot Prawirodirdjo menyampaikan suatu pesan “mudah-mudahan kejadian ini tidak akan terulang lagi dimasa-masa yang akan mendatang. Anak cucu kita akan lebih bisa mengatasi semua ini, lebih terampil, lebih punya watak pemimpin, lebih kuat daya tahannya dan lebih kuat cita-citannya kepribadadian dan keluhuran budi pengertinya.”
Inilah pesan yang disampaikan Sentot Prawirodirdjo untuk para penerus bangsa Indonesia. Mungkin kalimat itu bisa kita jadikan sebagai pedoman kita sebagai penerus bangsa Indonesia sekarang agar kita tidak salah dalam memimpin negara ini dan agar tumbuh para penerus bangsa yang berkualitas yang mampu membawa negara Indonesia lebih maju. Serta pesan yang disampaikan oleh Kromoludiro lewat perkataannya “Sebuah pademangan jika terdiri dari banyak maling akan membuat sebuah kabupaten tidak bisa berdiri. Sebuah kabupaten jika terdiri dari banyak maling tidak bisa membuat sebuah kepatihan berdiri. Sebuah kepatihan jika terdiri dari banyak maling tidak bisa membuat sebuah kesultanan berdiri kokoh. Jika penduduk sebagian besar terdiri dari maling, maka lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke dasar laut.” Menurut saya pesan sangat jelas ditujukan untuk Demang. Maling atau dapat dikatakan korupsi disini maksudnya yaitu Demang maling hasil panen rakyat dengan cara menaikan harga pajak bagi para petani serta ia mengkhianati bangsanya. Ternyata maling atau dapat dikatakan korupsi sudah ada sejak tahun 1828, jadi penyakit “korupsi” itu bisa dikatakan telah mendarah daging dalam penerus bangsa Indonesia, meskipun tidak semuanya maling. Selain Demang yang berkhianat terhadap rakyat Jawa, Van Aken juga berkhianat karena ia bekerjasama dengan Sentot Prawiradirdjo dan memberitahukan rencana yang akan dilaksanakan Kapten De Borst, tetapi ia melakukan itu karena ia juga masih simpatik terhadap Indonesia yang masih berdarah keturunannya. Banyak sekali pesan yang disampaikan dalam film ini, pesan-pesan itulah yang kita olah dalam diri kita dan hal-hal negatif sebaiknya jangan kita tiru. Sikap Kromoludiro yang setia akan amanat dan tidak membocorkan rahasia juga rela mengorbankan nyawa demi bangsanya seharusnya ditiruh para pemimpin bangsa kita yang sekarang. Sikap itulah yang kontras pada sekarang ini (2012) dimana pemerintah atau penerus bangsa hanya sibuk mencari kepentingan mereka masing-masing dari jabatan mereka semua. Imbasnya rakyat Indonesia sampai sekarang masih dijajah oleh kemiskinan, padahal bisa dilihat perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan dalam film November 1828 mencoba melepaskan diri dari ketidakadilan yang membebankan pajak tinggi, tetapi pemerintah dewasa ini tidak bertindak seperti pejuang-pejuang yang telah dilakukan pada zaman-zaman seperti dalam film ini. Akibatnya sampai sekarang kemiskinan masih menjajah Indonesia.


                                                                             







C. Simpulan film  NOVEMBER 1828

            Simpulan dari tulisan saya setelah saya menonton film November 1828 ini adalah perjuangan rakyat Jawa yang mencoba melepaskan diri dari perlawanan Belanda dan berusaha merebut kembali daerah rakyat Jawa yang telah dikuasai oleh Belanda yang dipimpin oleh Kapten De Borst. Film ini sangat erat kaitannya dengan sejarah Indonesia melawan Belanda. Perjuangan-perjuangan rakyat Jawa yang gigih melepaskan diri dari tangan Belanda terlihat sekali pada aktor Kromoludiro. Usaha dan cara Kromoludiro yang menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa tentang keberadaan Sentot Prawirodirdjo itulah yang harus dicontoh. Rasa Cinta Terhadap Tanah Air sangat kental pada film ini. Sesungguhnya film November 1828 bisa dijadikan untuk merubah pola pemikiran kita dari perjuangannya. Jika saya lihat dari hal negatifnya yaitu adannya sifat penghianatan. Sifat itulah yang harus dijauhi dan ditolak dalam didiri kita.
            Selain unsur politik ada juga unsur agama dan sosial. Unsur agama terlihat dari para pengikut Sentot Prawiradirdjo yang tinggal di Padepokan di dalam pesantren, yang masih kental nilai agamanya dan kebiasaan orana-orang Jawa yang masih sholat dan masih meminta segalanya kepada Allah. Unsur sosial dalam film ini terlihat dari cara rakyat Jawa melawan perlawanan Belanda, kebersamaan dan jiwa gotong-royong sangat dipegang dalam kehidupan Jawa. Secara langsung rakyat Jawa inilah yang dikatakan Pahlawan karena mereka semua turun langsung melawan penjajah Belanda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.