Kajian Film November 1828
Tugas mata kuliah Apresiasi Film Indonesia
Nanci Lambok Morrito
180110110077
Kelas A
Fakultas
Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran
2011
/2012
PENDAHULUAN
Sejarah Pembuatan Film November 1828
Sutradara Teguh Karya
Awal sejarah pembuatan film November 1828 ini bermula
dari seorang yang bernama Teguh Karya, ia menciptakan film ini dari sebuah
kisah nyata yang terjadi di daerah Jawa tepatnya pada abad ke- 19. Naskah sejarah ini sudah pernah mengalami
perubahan. Film yang berdurasi sekitar 140 menit dan menghabiskan dana sekitar
240 juta rupiah. Pada daat itu kondisi sosial-budaya masih kental pada adat
istiadat leluhur. Film ini dibuat pada tahun 1978 yang ditulis dan disutradarai
oleh Teguh Karya, yang diproduseri oleh Njoo Han Siang, Ronald Lolang, Hendrick
Gozali dan disamping itu juga ada pemeran-pemeran dalam film ini mereka adalah Slamet
Rahardjo, Maruli Sitompul, Jenny Rachman, Sunarti Rendra dan Rachmat Hidayat
dan masih banyak lagi pemeran-pemeran pembantu.
Menurut artikel yang telah saya baca, yang tertera di
situs internet (http://www.i-dus.com/2012/03/film-film-perjuangan-indonesia-jaman.html)
“November 1828 merupakan salah satu film karya sutradara besar Teguh Karya.
Film produksi 1978 ini berlatar kisah peperangan Diponegoro. Ditengah suasana
perang Diponegoro Kapiten De Borst (Slamet Rahardjo), seorang indo sangat ingi
membuktikan diri sebagai Belanda yang murni. Untuk membuktikannya ia harus berhasil
menangkap Sentot Prawirodirdjo otak peperangan Diponegoro. Segala cara ia
lakukan termasuk menyandera anak dan istrinya.”
Film ini dibuat juga sebagai film dokumenter Indonesia,
yang bisa dijadikan bukti sejarah bahwa mungkin seperti inilah yang pernah
terjadi pada tahun 1828.
B. Unsur-unsur yang dianggap menarik serta jalan cerita
dari film November 1828
November 1828
Setelah saya
menonton film November 1828 sutradara
Teguh Karya, menurut saya film ini menceritakan sebuah perjuangan rakyat Jawa
untuk bisa lepas dari tangan Belanda serta ingin merebut kembali daerah mereka
yang dijadikan benteng oleh Belanda dan untuk menyelesaikan konflik yang
terjadi didaerah itu. Didalam film ini juga terdapat hal-hal yang menarik dalam
segala unsur yaitu unsur politik, agama dan sosial. Banyak pesan yang
disampaikan dalam film ini antara lain: kepemimpinan, kejujuran, kesabaran, rasa
cinta terhadap tanah air, rela berkorban dan kebersamaan. Aspek keagaman juga
masih kuat pada kehidupan dalam film ini yang bisa digambarkan melalui
pengikut-pengikut Sentot Prawirodirdjo yang mengaji dan tinggal diwilayah
pesantren dan istri Kromoludiro yang sholat saat suaminya ditahan oleh pasukan
Belanda, serta amanat yang disampaikan Sentot untuk Kapten De Borst masih
meminta bantuan kepada Allah. Itulah unsur keagamaanya yang terdapat pada film
ini. Sedangkan menurut saya film ini sendiri sangat berfokus pada masalah
politik dan tujuan pribadi yang dilakukan oleh Kapten De Borst. Sesungguhnya
latar belakang kehidupan Kapten De Borst ini sendiri adalah orang Indo yang mana
ia sendiri orang keturunan Indonesia Belanda. Ia melakukan semua ini adalah
untuk tujuan pribadinya yaitu karena ingin mengejar karir kemiliteran dan untuk
bisa menjadi orang keturunan Belanda sesungguhnya. Hal ini dilakukan dengan
upaya menangkap Sentot Prawirodirdjo. Unsur sosialnya adalah cara rakyat Jawa
bersama-sama menyelesaikan permasalahan yang ada. Disini saya akan menceritakan
sekilas isi film November 1828.
Kapten De Borst bersama pasukannya datang ke desa Sambiroto
Jawa untuk mencari tahu keberadaan Sentot Prawirodirdjo lewat pengikut-pengikut
Sentot yang ada di kampung itu, dia adalah pengikut Pangeran Diponegora dan
bisa dibilang tangan kanan Pangeran Diponogoro.
Kapten De Borst memerintahkan seorang Demang kampung itu untuk mencari tau siapa saja pengikut Sentot Prawirodirdjo yang
ada di kampungnya. Demang ini pun sangat serakah dan licik bahkan ia tega menaiki
harga pajak kepada rakyatnya sehingga rakyatnya makin miskin. Demang itu pun
memberitahu bahwa yang bernama Kromoludiro adalah salah satu pengikut Sentot
Prawirodirdjo. Pihak Belanda pun langsung segera menangkap Kromoludiro dan
membawanya pulang kerumahnya. Setelah di perjalan pasukan Belanda serta Kromoludiro
berpapasan dengan Demang mereka melakukan percakapan, serta Kapten De Borst
mengucapkan terima kasih kepada Demang karena memberitahukan keberadaan
pengikut Sentot Prawirodirdjo. Dan Kapten De Borst memberi upeti kepada Demang
itu dan De Borst berjanji akan memberikan upeti lebih, jika Demang itu bisa
menangkap Sentot Prawirodirdjo. Setelah sampai di rumah Kromoludiro, Kapten De
Borst menyuruh pasukannya untuk mengumpulkan keluarganya. Istri Kromoludiro
sangat marah terhadap Demang itu, dan ia mengucap kata “ular beludak” yang
ditujukan kepada Demang. Ular beludak itu sendiri yaitu seekor ular yang rupannya
jelek, gemuk, pendek, malas, dan banyak makan. Sebutan ini sangat tepat untuk Demang.
Kapten De Borst menjadikan daerah rumah Kromoludiro
sebagai benteng sementara. Keluarga Kromoludiro tidak dapat berbuat apa-apa
selain mereka hanya bisa melihat perlakuan orang Belanda itu. Ada sekelompok
pemuda Padepokan yang ingin menghentikan tindakan para Belanda, mereka mengatur
strategi dan 3 orang pemuda yang bernama Mono, Jarot dan Tulus melempari
benteng Belanda dengan api dan menusukan sebuah pisau yang ada kertasnya yang
berisi sebuah amanat dari Sentot Prawirodirdjo. Hal ini diketahui pasukan
Belanda dan Kapten De Borst langsung membukanya serta ia ingin membacanya namun
karena isi tulisannya berisi tulisan arab sehingga ia tidak mengerti dan
memerintahkan Van Aken untuk membacakanya beginilah isi surat itu “assalamualaikum, bismilahirohmanirohim. Tuan-tuan
mesti mengetahui bahwa tanah di mana saat ini tuan-tuan berdiri adalah sebagian
dari tanah Jawi negeri leluhur kami. Atas bantuan Allah mudah-mudahan dalam
waktu dekat ini kami sudah dapat memililkinya lagi dan membebaskan orang-orang
kami yang tuan tangkap. Nyawa kami adalah taruhannya. Amin amin yarobalalamin.
Sentot Albasyah Abdul Prawirodirdjo.”
Mendengar isi surat itu Kapten De Borst sangat marah dan
langsung memerintahkan pasukannya untuk menanyakan kepada Kromoludiro tentang Sentot
Prawirdirdjo. Karena Kromoludiro tidak mau mengatakan tentang keberadaan Sentot
Prawirodirdjo, Kapten De Borst pun langsung memerintahkan pasukannya untuk
memisahkan anak-anaknya Kromoludiro, namun Van Aken tidak setuju dengan cara De
Borst karena ia merasa tindakan De Borst sudah tidak manusiawi. Lalu Van Aken
memberikan usulan kepada Kapten De Borst agar anak perempuannya Kromoludiro yang
bernama Laras saja yang menanyakan tentang keberadaan Sentot Prawirodirdjo,
mungkin saja lewat cara ini Kromoludiro bisa mengatakan keberadaan Sentot
Prawirodirdjo, namun Kromoludiro malah berkata “Sebuah
pademangan jika terdiri dari banyak maling akan membuat sebuah kabupaten tidak
bisa berdiri. Sebuah kabupaten jika terdiri dari banyak maling tidak bisa
membuat sebuah kepatihan berdiri. Sebuah kepatihan jika terdiri dari banyak
maling tidak bisa membuat sebuah kesultanan berdiri kokoh. Jika penduduk
sebagian besar terdiri dari maling, maka lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke
dasar laut.”
Perkataan Kromoludiro
itu didengar oleh Van Aken. Sejenak Van Aken berfikir kata-kata itu.
Pada suatu hari
datang seorang lelaki yang ternyata itu adalah anaknya Demang, ia berkata kepada
Kapten De Borst bahwa ia akan membantunya asalkan ia bisa mengawini anaknya Kromoludiro,
namun itu semua hanyalah siasat lelaki itu, ternyata ia datang ke benteng Belanda
untuk meracuni makanan yang akan dimakan oleh pasukan Belanda. Kejadian itu
terjadi dan sekitar 4 orang pasukan Belanda tewas karena keracunan, Kapten De Borst
pun marah dan memerintahkan menangkap lelaki itu, lelaki itu pun mencoba lari
namun ia ditembak. Kapten De Borst pun bertindak dan menanyai kepada
Kromoludiro karena Kromoludiro tetap bungkam. Kapten De Borst memerintahkan
pasukannya untuk memisahkan anak-anakknya Kromoludiro namun, Van Aken tidak
tega melihat itu, lalu ia berkata kepada Kapten De Borst kejadiaan yang
sesungguhnya bahwa ialah yang telah memberitahukan semua rencana yang akan
dilakukan Belanda terhadap tanah Jawa itu, “pada tanggal 2 agustus menemui Sentot dan memberitahukan
akan ada penyerangan besar-besaran pada tanngal 5 september, dan ia
memberitahukan markas Sentot dekat sebuah sungai,” itulah yang
dikatakan Van Aken dengan pelan-pelan, namun perkataan Van Aken belum selesai,
sedangakan Kromoludiro berusaha menyangkal perkataan Van Aken, karena emosinya
tak tertahan lagi ia menembak Kromoludiro, dan ia pun tewas.
Setelah
kejadian tewasnya Kromoludiro, prajurit-prajurit Belanda sedang
berbincang-bincang dan mereka berfikir bahwa sebenarnya Kapten De Borstlah yang
terlalu kejam akan tindakannya dan Van Aken membela yang benar, dan mereka
berniat untuk membebaskan Van Aken namun, ada 1 orang yang tak setuju dengan
hal itu dan dia ingin memberitahukan kepada Kapten De Borst tetapi sebelum
orang itu sampai menemui Kapten De Borst ia ditembak agar rencana mereka tidak ketawan.
Van Aken berkata kepada Kapten De Borst bahwa “peperaangan mempunyai pertimbangan kemanusiaan disamping
taktik dan tujuan De Borst.” Ia berkata bahwa ambisi De Borst
hanya menambah korban saja yaitu seperti yang telah dilakukan di peperangan
yang pernah terjadi di belenggu, kembang arum, belengkong.
Pada malam hari Kapten De Borst melihat
pertunjukan tradisional yang dipersembahkan oleh rakyat Jawa, ternyata
pertunjukan itu adalah sebuah rencana yang dilakukan rakyat Jawa untuk bisa
menyerang Belanda. Lantas terjadilah perang kecil antara pasukan Belanda dan
rakyat Jawa. Kesesokan harinya rakyat bersama-sama mencoba membuka gerbang
markas pasukan Kapten De Borst terjadi perang baku tembak antara Belanda dan
rakyat Jawa, banyak yang gugur diantara kedua belah pihak. Datanglah
serombongan berkuda yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirdjo, ketika sebagian
pasukan De Borst gugur, tinggallah De Borst seorang diri dan ia ditembak oleh
anak lelaki Kromoludiro.
Sampai akhir
cerita pun film ini tidak menampakan sosok Pangeran Diponegoro yang selalu
dikaitkan dalam konflik Kapten De Borst, juga Sentot Prawiro hanya muncul pada
akhir cerita saat perang terjadi. Itulah sekilas jalan cerita film November
1828 yang telah saya tonton.
Dalam akhir cerita Sentot
Prawirodirdjo menyampaikan suatu pesan “mudah-mudahan kejadian ini tidak akan terulang lagi
dimasa-masa yang akan mendatang. Anak cucu kita akan lebih bisa mengatasi semua
ini, lebih terampil, lebih punya watak pemimpin, lebih kuat daya tahannya dan
lebih kuat cita-citannya kepribadadian dan keluhuran budi pengertinya.”
Inilah pesan yang disampaikan Sentot Prawirodirdjo untuk
para penerus bangsa Indonesia. Mungkin kalimat itu bisa kita jadikan sebagai
pedoman kita sebagai penerus bangsa Indonesia sekarang agar kita tidak salah
dalam memimpin negara ini dan agar tumbuh para penerus bangsa yang berkualitas
yang mampu membawa negara Indonesia lebih maju. Serta pesan yang disampaikan
oleh Kromoludiro lewat perkataannya “Sebuah pademangan jika
terdiri dari banyak maling akan membuat sebuah kabupaten tidak bisa berdiri.
Sebuah kabupaten jika terdiri dari banyak maling tidak bisa membuat sebuah
kepatihan berdiri. Sebuah kepatihan jika terdiri dari banyak maling tidak bisa
membuat sebuah kesultanan berdiri kokoh. Jika penduduk sebagian besar terdiri
dari maling, maka lebih baik pulau Jawa ini tenggelam ke dasar laut.” Menurut saya pesan sangat jelas
ditujukan untuk Demang. Maling atau dapat dikatakan korupsi disini maksudnya
yaitu Demang maling hasil panen rakyat dengan cara menaikan harga pajak bagi
para petani serta ia mengkhianati bangsanya. Ternyata maling atau dapat
dikatakan korupsi sudah ada sejak tahun 1828, jadi penyakit “korupsi” itu bisa
dikatakan telah mendarah daging dalam penerus bangsa Indonesia, meskipun tidak
semuanya maling. Selain Demang yang berkhianat terhadap rakyat Jawa, Van Aken
juga berkhianat karena ia bekerjasama dengan Sentot Prawiradirdjo dan
memberitahukan rencana yang akan dilaksanakan Kapten De Borst, tetapi ia
melakukan itu karena ia juga masih simpatik terhadap Indonesia yang masih
berdarah keturunannya. Banyak sekali pesan yang disampaikan dalam film ini,
pesan-pesan itulah yang kita olah dalam diri kita dan hal-hal negatif sebaiknya
jangan kita tiru. Sikap Kromoludiro yang setia akan amanat dan tidak
membocorkan rahasia juga rela mengorbankan nyawa demi bangsanya seharusnya
ditiruh para pemimpin bangsa kita yang sekarang. Sikap itulah yang kontras pada
sekarang ini (2012) dimana pemerintah atau penerus bangsa hanya sibuk mencari
kepentingan mereka masing-masing dari jabatan mereka semua. Imbasnya rakyat
Indonesia sampai sekarang masih dijajah oleh kemiskinan, padahal bisa dilihat
perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan dalam film November 1828 mencoba melepaskan
diri dari ketidakadilan yang membebankan pajak tinggi, tetapi pemerintah dewasa
ini tidak bertindak seperti pejuang-pejuang yang telah dilakukan pada
zaman-zaman seperti dalam film ini. Akibatnya sampai sekarang kemiskinan masih
menjajah Indonesia.
C. Simpulan film NOVEMBER 1828
Simpulan
dari tulisan saya setelah saya menonton film November 1828 ini adalah perjuangan rakyat Jawa yang mencoba
melepaskan diri dari perlawanan Belanda dan berusaha merebut kembali daerah
rakyat Jawa yang telah dikuasai oleh Belanda yang dipimpin oleh Kapten De
Borst. Film ini sangat erat kaitannya dengan sejarah Indonesia melawan Belanda.
Perjuangan-perjuangan rakyat Jawa yang gigih melepaskan diri dari tangan
Belanda terlihat sekali pada aktor Kromoludiro. Usaha dan cara Kromoludiro yang
menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa tentang keberadaan Sentot
Prawirodirdjo itulah yang harus dicontoh. Rasa Cinta Terhadap Tanah Air sangat
kental pada film ini. Sesungguhnya film November
1828 bisa dijadikan untuk merubah pola pemikiran kita dari perjuangannya.
Jika saya lihat dari hal negatifnya yaitu adannya sifat penghianatan. Sifat
itulah yang harus dijauhi dan ditolak dalam didiri kita.
Selain
unsur politik ada juga unsur agama dan sosial. Unsur agama terlihat dari para
pengikut Sentot Prawiradirdjo yang tinggal di Padepokan di dalam pesantren,
yang masih kental nilai agamanya dan kebiasaan orana-orang Jawa yang masih
sholat dan masih meminta segalanya kepada Allah. Unsur sosial dalam film ini
terlihat dari cara rakyat Jawa melawan perlawanan Belanda, kebersamaan dan jiwa
gotong-royong sangat dipegang dalam kehidupan Jawa. Secara langsung rakyat Jawa
inilah yang dikatakan Pahlawan karena mereka semua turun langsung melawan
penjajah Belanda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.