naaaaaancy
Mahasiswi Universitas Padjajaran
Selasa, 24 Juli 2012
FOR JESUS
KUATKANLAH HATIMU
LEWATI SETIAP PERSOALAN
TUHAN YESUS S’LALU MENOPANGMU
JANGAN BERHENTI HARAP PADA-NYA
TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU
TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU
PERCAYALAH, PERCAYALAH (KITA HARUS PERCAYA)
PERCAYALAH DIA ’KAN MENGANGKATMU
LEWATI SETIAP PERSOALAN
TUHAN YESUS S’LALU MENOPANGMU
JANGAN BERHENTI HARAP PADA-NYA
TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU
TUHAN PASTI SANGGUP
TANGAN-NYA TAK ’KAN TERLAMBAT ’TUK MENGANGKATMU
TUHAN MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA MASIH SANGGUP
PERCAYALAH DIA TAK TINGGALKANMU
PERCAYALAH, PERCAYALAH (KITA HARUS PERCAYA)
PERCAYALAH DIA ’KAN MENGANGKATMU
Senin, 04 Juni 2012
FILOLOGI
LAPORAN PENELITIAN
MUSEUM
PRABU GEUSAN ULUN

Disusun
oleh:
NANCI
LAMBOK MORRITO
18011010077
SASTRA
INDONESIA
FAKULTAS
SASTRA
UNIVERSITAS
PADJADJARAN
JATINANGOR
2011
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan laporan
kunjungan Museum Prabu Geusan Ulun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
filologi. Dan untuk lebih mengetahui
kota sumedang serta melihat benda-benda peninggalan sejarah yang ada dimuseun
prabu geusan ulun sumedang.
Dalam
penulisan laporan ini, penulis mengalami berbagai hambatan, terutama di
sebabkan kurangnya pengetahuan dan wawasan yang dimiliki. Namun, berkat bantuan
dan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi
pembaca pada umumnya. Semoga laporan ini bias dijadikan materi pembahasan
selanjutnya.
Jatinangor, 10 November 2011
Penulis
Daftar Isi
Jilid…………………………………………………………………………………………………………………1
Kata
Pengantar………………………………………………………………………………………………2
Daftar Isi……………………………………………………………………………………………………….3
Pendahulua.........................................................................................................4
Berdirinya
MPGU…………………………………………………………………………………………..7
Letak MPGU……………………………………………………………………………………………………9
Gambar gedung
MPGU.....................................................................................10
Museum Prabu Geusan Ulun…………………………………………………………………………11
Koleksi Benda Pusaka
dan Naskah……………………………………………………………..18
Objek yang menarik …………………………………………………………………………………….20
Daftar koleksi
Buku……………………………………………………………………………………..21
Daftar nama naskah-naskah
kuno................................................................22
Gambar-gambar yg ada diMPGU...................................................................26
Contoh naskah
kuno.........................................................................................31
Penutup...............................................................................................................32
PENDAHULUAN
Sejarah Kota Sumedang
Sebelum ada
kerajaan Sumedang Larang, terlebih dahulu ada kerajaan Tembong Agung yang
berpusat di desa Leuwi Hideung, Kecamatan Darmaraja. Salah satu rajanya yang
terkenal yaitu Prabu Guru Aji Putih, yang setelah wafat digantikan oleh
putranya yang bernama Batara Tungtang Buana yang bergelar Prabu Taji
Malela.kerajaan Tembong Agung ini menjadi bawahan kerajaan sunda yang terkenal,
yaitu kerajaan Pajajaran, karena Ratu Raja Mantri yaitu Puteri dari Sunan
Pagulingan diperistri oleh Raja Pajajaran yang terkenal yaitu Prabu Siliwangi.
Kerajaan Tembong Agung ini pindah ke Kuta Maya dan selanjutnya berganti nama
menjadi Sumedang Larang muncul dalam kancah sejarah setelah kerajaan Sunda
Pajajaran runtuh pada tahun 1580salah satu Raja Sumedang Larang yang terkenal
yaitu Prabu Geusan Ulun memperoleh mahkota emas Raja Kerajaan Sunda dari empat
Panglima Perang kerajaan Pajajaran, yaitu Sanghyng Hawu atau Jaya Perkasa,
Batara Dipati Wiradijaya atau Nanganan, Sanghyang Kondang Hapa, dan Batara
Pancar Guana atau Terong Peot. Penyerahan mahkota ini merupakan simbolisasi
bahwa Sumedang Larang menjadi penerus kerajaan Sunda Pajajaran. Mahkota ini
bernama Binokasih dan sekarang dapat dilihat di Museum Prabu Geusan Ulun
tepatnya di gedung Pusaka.
Gambar peta sumedang :
Masa pemerintahan Sumedang Larang :
v Soeria Koesoema Adinata (Pangeran Soegih) 1836-1882
v Aria Soeria Atmadja (Pangeran Mekkah) 1882-1919
v Dalem Adipati Aria Koesoemadilaga (Dalem Bintang) 1919-1937
v Dalem Tumenggung Aria Koesoemahdinata (Dalem Aria Soemantri)
1937-1942-1945-1946
v R. Hasan Soeriasatjakoesoemah 1946-1947, 1949-1950
v R. Tumenggung M. Singer 1947-1949
v Soelaeman Soewitakoesoemah 1951-1958
v Antam Sastradipoera 1958-1966
v Moch. Chafil 196-1966
v Adang Kartaman 1966-1970
v Drs. Soepian Iskandar 1970-1972, 1972-1977
v Drs. Koestandi Abdoerahman 1977-1983
v Drs. H. Sutardja 1983-1988, 1988-1993
v Drs. H. Moch. Husein Jochjasaoutra 1993-1998
v Drs. H. Misbach 1998-2003
v H. Dr. Don Murdono, S.H. M.Si 2003-2008, 2008-2013
v Drs. H. Osin Herlianto 2003-2008 (Wakil bupati)
v Taufik Gunawansyah, S.Ip 2008-2013 (Wakil bupati)
Berdirinya Museum Prabu Geusan Ulun
Peninggalan
benda-benda bersejarah dan barang-barang pusaka Leluhur Sumedang, sejak
Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang dan Bupati-bupati yang memerintah Kabupaten
Sumedang dahulu, merupakan koleksi yang membanggakan dan besar artinya bagi
kita semua, terlebih bagi keluarga Sumedang. Kumpulan benda-benda tersebut
disimpan di Yayasan Pangeran Sumedang sejak tahun 1955.
Timbullah
suatu gagasan, ingin memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang khususnya dan
masyarakat di luar Sumedang pada umumnya, bahwa di Sumedang dahulu terdapat
kerajaan besar yaitu Kerajaan Sumedang Larang, dengan melihat benda-benda
peninggalan Raja-raja tersebut dan sebagainya.
Setelah
diadakan persiapan-persiapan yang matang dan terencana, lima tahun setelah
tahun 1968 baru terlaksana, tepatnya tanggal 11 Nopember 1973 Museum Keluarga
berdiri.
Pada
tahun 1974, di Sumedang diadakan Seminar Sejarah oleh ahli-ahli sejarah se-Jawa
Barat dan diikuti ahli sejarah dari Yayasan Pangeran Sumedang, dalam seminar
tersebut dibahas nama museum Sumedang. Diusulkan nama museum adalah seorang tokoh
dalam Sejarah Sumedang, ternyata yang disepakati nama Raja Sumedang Larang
terakhir yang memerintah Kerajaan Sumedang Larang dari tahun 1578 - 1601, yaitu
Prabu Geusan Oeloen.
Kemudian
nama museum menjadi Museum Prabu Geusan Ulun dengan ejaan baru untuk memudahkan
generasi baru membacanya.
Gedung
yang dipergunakan untuk museum yaitu Gedung Srimanganti, Bumi Kaler, Gedung
Gendeng dan Gedung Gamelan. Pada tahun 1980, Pemerintah melalui Dinas Jawatan
Permuseuman dan Kepurbakalaan Kebudayaan Jawa Barat, mengulurkan tangan dan
memugar Gedung Srimanganti dan Bumi Kaler.
Pada
hari Rabu tanggal 21 April 1982, Direktur Jenderal Kebudayaan Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. DR. Haryati Soebadio, meresmikan dan
menyerahkan kedua bangunan yang selesai dipugar kepada Yayasan Pangeran
Sumedang dan bernaung di bawah Momenten Ordonnatie Nomor 19 Tahun 1931
(Staatsblad Tahun 1931 Nomor 238).
Letak Museum Prabu Geusan Ulun
Berdirinya
MPGU berawal dari terbentuknya yayasan Pangeran Sumedang sebagai lembaga yang
mengurus, memelihara, dan mengelola barang wakaf Kanjeng Pangeran Aria
Soeriaatmadja bupati Sumedang yang memerintah pada tahun 1882-1919. Pada tahun
1973, didirikan Museum Wargi YPS yang pada awalnya hanya dibuka untuk
lingkungan para wargi keturunan leluhur Pangeran Sumedang saja. Pada tanggal
7-13 Maret 1974 di Sumedang diadakan Seminar Sejarah Jawa Barat, pada
kesempatan tersebut para sesepuh dan wargi Sumedang mengusulkan untuk perubahan
nama Museum Wargi YPS dan diputuskan untuk memberi nama dari tokoh kharismatik
raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, yaitu Prabu Geusan Ulun. Maka sejak 13
Maret 1974, Museum ini diberi nama Museum Prabu Geusan Ulun Yayasan Pangeran
Sumedang.
Museum
Prabu Geusan Ulun terletak di tengah kota Sumedang, 50 meter dari Alun-alun ke
sebelah selatan, berdampingan dengan Gedung Bengkok atau Gedung Negara dan
berhadapan dengan Gedung-gedung Pemerintah. Jarak dari Bandung 45 kilometer,
sedangkan jarak dari Cirebon 85 kilometer, jarak tempuh dari Bandung 1 jam,
sedangkan dari Cirebon 2 jam.
Gedung
Museum Prabu Geusan Ulun

Gedung Srimanganti didirikan pada tahun 1706, pada masa pemerintahan Dalem
Adipati Tanoemadja, arsitektur Gedung Srimanganti bergaya colonial, kata
Srimanganti mempunyai arti adalah tempat menanti-nanti tamu kehormatan. Dahulu
gedung Srimanganti dikenal sebagai rumah “Land Huizen” (Rumah Negara). Fungsi
gedung Srimanganti pada masa itu adalah tempat tinggal buat Bupati serta
keluarganya.Gedung Srimanganti dipergunakan sebagai tempat tinggal bupati dan
keluarganya, diantaranya Pangeran Kornel, Pangeran Sugih, Pangeran Mekah dan
Dalem Bintang. Pada tahun 1942 Srimanganti tidak digunakan sebagai rumah
tinggal Bupati serta keluarganya oleh Dalem Aria Soemantri dijadikan Kantor
Kabupaten, sedangkan Bupati serta keluarganya tinggal di Gedung Bengkok / Gedung
Negara – sekarangGedung Srimanganti terdaftar pula dalam Monumenter Ordonantie
1931 sebagai bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh pemerintah. Pada tahun
1982 Gedung Srimanganti mengalami pemugaran karena sempat dijadikan kantor
Pemda, setelah pemugaran Gedung Srimanganti diserahkan kembali kepada Yayasan
Pangeran Sumedang oleh Direktur Kebudayaan Depdikbup pada masa itu.
Gedung Bumi Kaler dibangun pada tahun 1850, tepatnya pada masa pemerintahan
Bupati Pangeran Soeria Koesoemah Adinata / Pangeran Sugih yang memerintah
Sumedang tahun 1836 – 1882. Gedung Bumi Kaler juga sudah beberapa kali mengalami rehabilitasi pada
tahun 1982, 1993 dan tahun 2006, namun tidak merubah dari bentuk aslinya. Sama
halnya dengan Gedung Srimanganti, Bumi Kaler sudah terdaftar dalam Monumeter
Ordonantie 1931 karena termasuk dalam bangunan yang dilindungi oleh pemerintah
sebagai Benda Cagar Budaya. Gedung Bumi Kaler menjadi gedung Museum Prabu
Geusan Ulun pada tahun 1982.
Fungsi dari Gedung Pusaka ini sesuai namanya yaitu sebagai tempat khusus
menyimpan benda-benda Pusaka peninggalan para leluhur Sumedang. Pembangunan
Gedung Pusaka dibangun karena Gedung Gendeng waktu itu sebagai tempat menyimpan
pusaka sudah tidak memadai, sehingga atas prakarsa Ibu Hj. Rd. Ratjih
Natawidjaya ibunda dari Bapak Prof. DR. Ginanjar Kartasasmita, rencana Gedung
Pusaka bisa dilaksanakan dengan melibatkan Yayasan Pangeran Sumedang, Rukun
Wargi Sumedang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Sumedang, Departemen
Pariwisata Sumedang, Pemda Sumedang dan Direktorat Permuseuman Propinsi Jawa
Barat. Pada tanggal 25 Maret 1990 pembangunan Gedung Pusaka mulai dikerjakan
dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Ibu Ibu Hj. Rd. Ratjih Natawidjaya .
Proses pembangunan Gedung Pusaka memakan waktu cukup lama yaitu selama tujuh
tahun, selesai pada tahun 1997, kemudian diresmikan oleh Bupati Sumedang Bapak
Drs. H. Moch. Husein Jachjasaputra.. Biaya pembangunan Gedung Pusaka selain
sumbangan dari Pronvinsi TK. I Jawa Barat juga sumbangan dari para wargi
Sumedang, salah satunya sumbangan Sanggar Seni Sumedang “Padepokan Sekar
Pusaka” pimpinan Bapak Rd. E. Lesmana Kartadikoesoemah (Alm
·
Gedung
Gendeng
Gedung Gendeng didirikan pada tahun 1850, pada masa pemerintahan Pangeran
Soeria Koesoemah Adinata atau Pangeran Sugih. Gedung ini dipugar pada tahun 1950. Gedung tersebut aslinya
dibuat dari :
ü Lantai merah
ü Dinding bilik
ü Tiang kayu jati
ü Atap genting
Gedung ini berfungsi sebagai Tempat menyimpan barang-barang pusaka,
senjata-senjata dan gamelan kuno. Gedung Gendeng waktu itu digunakan untuk
menyimpan Pusaka-Pusaka lelehur dan senjata lainnya. Bangunan tersebut dibuat
dari kayu dan berdinding Gedeg serta berlantai batu merah, selain itu Gedung
Gendeng juga tempat menyimpan Gamelan Pusaka. Gedung Gendeng mengalami beberapa
kali pemugaran dan rehabilitasi bangunan, pertama tahun 1950, 1955 dan tahun
1993. Namun karena benda Pusaka-pusaka makin banyak sampai akhirnya Gedung
Gendeng tidak memadai lagi untuk menyimpan benda-benda Pusaka tersebut maka dibangunlah
Gedung Pusaka khusus untuk menyimpan benda-benda Pusaka. Gedung Gendeng
sekarang beralih fungsi menjadi Gedung social budaya. Gedung Gendeng merupakan
Museum Yayasan Pangeran Sumedang pertama yaitu pada tahun 1973
Gedung Gamelan ini merupakan Gedung Museum Yayasan Pangeran Sumedang yang
pertama.
Gedung ini Didirikan pada tahun 1973 oleh Pemerintah Daerah Sumedang atas
sumbangan dari Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Bapak H. Ali Sadikin.
Gedung tersebut berfungsi diperuntukkan tempat menyimpan gamelan-gamelan
dan tempat berlatih tari-tarian.
Kononnya Setiap satu tahun satu kali pada bulan Maulud semua Gamelan Pusaka
dicuci dan tidak dibunyikan latihan taripun diliburkan.
Pada saat perencanaan pembangunan Gedung Pusaka direncanakan pula
pembangunan Gedung Kereta. Gedung Kereta merupakan bangunan terakhir dari
Museum Prabu Geusan Ulun yang dibangun pada tahun 1990. Fungsi Gedung ini untuk
menyimpan Kareta Naga Barong sebagai replica dari Kareta Naga Paksi peninggalan
Pangeran Soeria Koesoemah Adinata / Pangeran Sugih dan kereta lainnya yang
menjadi koleksi Museum Prabu Geusan Ulun. Konon jika seseorang menaikan kereta
tersebut katanya mudah dapat jodoh, maka banyak sekali pengunjung museum yang
ingin menaiki kereta tersebu
KOLEKSI
BENDA-BENDA PUSAKA DAN NASKAH DI MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN
Nama-nama Naskah yang Terdaftar di Museum Prabu Geusan Ulun
|
No.
|
Nama
Naskah
|
Tema
|
|
ü
|
Wawacan Batararama
|
Wayang
|
|
ü
|
Wawacan Angling Darma
|
Pahlawan
|
|
ü
|
Wawacan Nurguat
|
Doa
|
|
ü
|
Wawacan Suluk Wapandita
|
Dunia
|
|
ü
|
Wawacan Pribadi Sorangan
|
Jati diri kita
|
|
ü
|
Wawacan Panganten Tujuh
|
Nabi yang menikah pada hari Jumat
|
|
ü
|
Wawacan Nasihat
|
Nasehat
|
|
ü
|
Wawacan Kanjeng Nabi
|
Nabi
|
|
ü
|
Wawacan Amir Hamzah
|
Paman Nabi
|
|
ü
|
Kitab Waruga Jagad
|
Sejarah Sumedang
|
|
|
Kitab Layang Darmaraga
|
Sejarah Sumedang
|
Catatan: Banyak naskah yang hilang dikarenakan kurangnya keamanan
dan tidak dikembalikan saat dipinjam.
BENDA
PUSAKA yang ada DI MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN
Museum
Prabu Geusan Ulun mempunyai sekitar 2800 koleksi benda pusaka. Nama-nama benda
pusaka tersebut diantaranya:
Ø Kereta Kencana Naga Paksi
Ø Keretek
Ø Gamelan Sari Oneng Parakansalak
Ø Gamelan Sari Oneng Mataram
Ø Gamelan Panglipur
Ø Gamelan Sekar Oneng
Ø Gamelan Sanglir
Ø Gamelan Talun
Ø Wayang Golek
Ø Wayang Kulit
Ø Pedang Quait
Ø Pepeten (Tempat menyimpan alat kecantikan)
Ø Seperangkat meja kerja
Ø Pelita
Ø Peti kayu
Ø Meja dan kursi kerja
Ø Penutup tempat tidur
Ø Mahkota Binokasih
Ø Tombak Trisula
Ø Tombak polos dan batang
Ø Tombak bermata kujang
Ø Gobang dan golok
Ø Keris lurus dan kerus eluk
Ø Keris Panunggul Naga
Ø Keris Ki Dukun
Ø Keris Kujang
Ø Pedang Ki Mastak
Ø Duhung/Badik Curuk Aul
Ø KerisNagasasra
PUSAKA
PENINGGALAN YANG MASIH ADA DIMUSEUM
|
No.
|
Nama Pusaka
|
Peninggalan
|
|
ü
|
Pedang
Ki Mastak
|
Prabu
Taji Malela
|
|
ü
|
Keris
Ki Dukun
|
Prabu
Gajah Agung
|
|
ü
|
Keris
Panunggul Nanga
|
Prabu
Geusan Ulun
|
|
ü
|
Keris
Nagasasra
|
RAA
Surjanagara Kusumadinata
|
|
ü
|
Keris
Nagasasra
|
Pangeran
Bangsa Gempol
|
|
ü
|
Duhung
Curuk Aul
|
Sanghyang
Aul
|
|
|
Badik
Curuk Aul
|
Sanghyang
Aul
|
Objek yang saya
anggap menarik yaitu :
GAMELAN SARI ONENG PARAKANSALAK

Menurut data dari
administratur ANDRIAN WALLRAFLENHOLLE
perkebunan teh parakansalak sukabumi,
GAMELAN SARI ONENG PARAKANSALAK dibuat disumedang tahun 1925. Saat itu
sumedang merupakan pusat budaya dijawa barat. Sedangkan rancaknya sesuai
lambing-lambang yang ada menurut cerita dibuat dari kayu besi di muangthai.
Pada tahun 1883
GAMELAN SARI ONENG PARAKANSALAK ikut pameran internasional diamsterdam dalam
rangka pameran the sedunia. Pada tahun 1989 ikut pameran EXPOSITION UNIVERSSELE
dalam rangka promosi the diparis. Dan pada tahun 1893 ikut pameran dalam rangka
promosi the cicago.
Pada tahun 1942
GAMELAN SARI ONENG PARAKANSALAK diserahkan pada bupati sukabumi yaiyu R.A.A
SOERIA DANOENINGRAT, wafat maka para ahli menitipkan GAMELAN SARI ONENG
PARASALAKAN menitipkan kepada MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN SUMEDANG.
KEMBALINYA GONG
BESAR
Pada tahun
masuknya GMELAN SARI ONENG PARASALAKAN kembali kesukabumi setelah keliling
dieropa dan amerika yaitu gongnya besar tertinggal diamsterdam maka pada bulan
april 1989 gong besar tersebut dikembalikan ke MUSEUN PRABU GEUSAN ULUN
SUMEDANG melalui duta besar kerajaan
belanda kepada keluarga A.R.R.SOERIADANOENINGRAT.
DAFTAR
KOLEKSI BUKU
PERPUSTAKAAN
MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN
|
No Urut
|
No Her.
|
Klasifikasi
|
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
|
000
– 099
100
– 199
200
– 299
300
– 399
400
– 499
500
– 599
600
– 699
700
– 799
800
– 899
900
– 999
|
Karya
Umum
Ilmu
Filsafat
Agama
Ilmu
– Ilmu Sosial
Bahasa
Ilmu
– Ilmu Murni (Pasti Alam)
Ilmu
– Ilmu Terapan
Kesenian,
Hiburan & Olahraga
Kesusastraan
Geografi
& Sejarah Umum
|
|
|
DAFTAR NAMA-NAMA NASKAH KUNO
“QUR’AN TULISAN TANGAN TAHUN 1856”
Kaum Sumedang
. “WAWACAN
SYECH ABDUL KODIR JAELANI”
Abdul Kodir Jaelani
“NASKAH MENGENAI PRABU
SILIWANGI”
Bandung R.A.A Martanegara
“NASKAH SUNDA /
KUMPULAN NASKAH-NASKAH SUNDA”
naskah
Sunda
“WAWACAN ANGLING DARMA”
“WAWACAN PANGANTEN
TUJUH”
“TERJEMAHAN PANGANTEN
TUJUH”
“WAWACAN SULUK DUA
PANDITA RAI SARENG RAKA”
Raka
“KITAB WARUGA JAGAT”
Rayagung
Taun Alip 1117
“HIKAYAT SHAYID ABDULLAH”
“TERJEMAHAN KITAB
WARUGA JAGAT DENGAN BENTUK BARU”
Rayagung
Taun Alip 1117
“WAWACAN AMIR HAMZAH”
“HIKAYAT KANJENG NABI MUHAMMAD SAW”
Muhammad Saw semasa kecil
“WAWACAN ANGLING DARMA”
“HIKAYAT SYECH ABDUL KADIR JAELANI”
Kadir Jaelani
“MANAKIB SYEH ABDUL KADIR JAELANI”
Jaelani
“WAWACAN BATARA RAMA”
“KITAB NASEHAT KE I DAN KE II”
“WAWACAN
KANGJENG NABI MUHAMMAD SAW”
“TERJEMAHAN KITAB NASEHAT I – II”
“KITAB PARIRIMBON”
“TERJEMAHAN KITAB NASIHAT 1 DAN 2”
“SEJARAH SUMEDANG HURUF ARAB”
“TERJEMAHAN BATARA RAMA 1 DAN 2”
“SEJARAH KABUPATEN SUMEDANG KE 1 DAN 2”
“HADA SOHIBUL KITAB QUR’AN”
Sumedang Tahun 1274
“HADA SOHIBUL KITAB QUR’AN”
Sumedang Tahun 1274
“SEJARAH SUMEDANG”
“RUKUN SYAHADAT”
“RIWAYAT NABI YUSUF”
“RIWAYAT TENTANG ABDULLOH”
“CERITA BABAD DAN ILMU MA’RIFAT”
“TAFSIR SURAT TABAROK”
“WAWACAN AMIR HAMZAH”
Gambar gambar yang ada didalam
MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN

Gambar nagapaksi asli

Gambar gamelan

Gambar pusaka

Gambar wayang

Gambar andong
gambar
al-qur’an 
PENUTUP
Kesimpulan
Dari
penelitian yang saya teliti saya menyimpulkan bahwa masih banyak benda-benda
pusaka yang tersimpan di MUSEUN PRABU GEUSAN ULUN SUMEDANG, meskipun ada juga
yang hilang, ada juga naskah-naskah kuno yang masih tersimpan di museum
tersebut, akan tetapi naskah-naskah tersebut disimpan dengan rapi agar tidak
rusak, karena kondisi naskah tersebut kebanyakan sudah lapuk,
Didalam
MUSEUM PRABU GEUSAN ULUN masih banyak sastra-satra kuno yang tersimpan, maka
dari itu kita sebagai anak bangsa harus menjaga sastra-sastra kuno tersebut
agar tidah hilang dan tidak dicuri oleh orang yang ingin mengambilnya.
Jika ada
keterangan atau kata-kata yang kurang saya minta maaf sebesar-besarnya,
demikian kesimpulan laporan yang saya buat, terimakasih
Langganan:
Komentar (Atom)





